KUNINGAN, (FC).- Di tengah maraknya aneka takjil kekinian yang menghiasi lapak-lapak Ramadan, serabi tradisional tetap bertahan sebagai primadona menu berbuka puasa. Jajanan sederhana berbahan dasar tepung beras ini masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk mengawali santap magrib.
Di Desa Sidamulya, Kecamatan Jalaksana, lapak serabi milik Ceu Utin selalu ramai diserbu pembeli sejak sore hari. Selama bulan Ramadan, ia mulai berjualan pukul 14.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa.
“Kalau Ramadan saya jualan dari jam dua siang sampai mau magrib. Alhamdulillah ramai terus. Sehari bisa habis sekitar 5 sampai 6 kilo tepung,” ujar Ceu Utin.
Menurutnya, meski kini banyak takjil modern dengan tampilan menarik, serabi tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat karena cita rasanya yang khas dan harga yang terjangkau.
Serabi yang dipanggang menggunakan tungku tradisional itu menghasilkan aroma harum yang menggugah selera. Teksturnya lembut dengan pinggiran renyah, biasanya disajikan dengan kuah manis gula merah atau santan.
Salah seorang pembeli, Otang Hartoyo, mengatakan serabi sudah menjadi menu wajib saat berbuka puasa.
“Serabi itu makanan buka puasa. Biasanya dimakan sama gorengan buat mengganjal perut sebelum salat tarawih,” katanya.
Menurut Otang, selain rasanya yang pas di lidah, serabi juga mudah dicerna dan cocok sebagai pembuka sebelum menyantap hidangan utama.
Ramadan pun menjadi momen berkah bagi pedagang tradisional seperti Ceu Utin. Di tengah gempuran jajanan modern, serabi tetap eksis dan membuktikan bahwa kuliner tradisional tak lekang oleh waktu. (Angga)










































































































Discussion about this post