“Ketika melihat saudara Kita yang terdampak Covid-19, Kita tidak boleh menutup mata. Mari bantu, ringankan beban mereka. Bisa dengan cara apapun. Kalau tidak bisa langsung dengan uang atau sembako, bisa menjadi perantara donatur untuk mengestapetkannya kepada yang membutuhkan, itu juga sudah menjadi bagian dari kepedulian,” papar perempuan kelahiran Purworejo 1983 ini.
Sri Rejeki sendiri adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya lebih fokus mengurus anak, suami dan kebutuhan keluarga.
Akan tetapi, sebagai seorang istri tokoh pemuka agama di Kecamatan Cigugur Kab. Kuningan, Sri begitu akrab dan harmonis dengan warga lingkungan, luar lingkungan/daerah maupun dengan umat non Kristiani.
“Meskipun Saya hanya sebagai ibu rumah tangga, tapi Saya tidak berkecil hati. Karena Saya masih dan harus bisa menularkan kebaikan kepada orang lain. Menjaga kebersamaan, kekompakan, toleransi adalah satu pondasi untuk bisa saling berbagi kebaikan,” kata ibu dari dua putra ini.
Perempuan yang hobi memasak masakan tradisional tersebut memang terlahir dari latarbelakang perbedaan agama.
Perbedaaan tersebut tidak menjadikan penghalang dan memutus persaudaraan, justru dengan perbedaan agama, Sri dan suami juga saudara serta warga lainnya terjalin hubungan yang harmonis. Ia tetap rindu untuk saling menyapa, saling menolong dan bersilaturahmi.
“Besar harapan Saya, dimanapun Saya tinggal, keharmonisan dari perbedaan itu tetap terjalin dengan baik. Jangan hanya bisa menuntut, tetapi mari lakukan bersama. Karena hidup adalah kesempatan, maka hidup harus jadi berkat bagi sesama,” papar Koordinator Jaringan Gerakan Perempuan Lintas Agama (Jaga Pelita) itu. (Bambang)
















































































































Discussion about this post