KOTA CIREBON, (FC), – Semakin melambungnya harga kedelai membuat sejumlah pabrik tempe di Kota Cirebon banyak yang gulung tikar.
Salah satunya Fari Mala, pemilik pabrik tempe rumahan yang berletak di jalan Benteng, Kelurahan Jagasatru, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon.
Pak Fari, sapaan akrabnya mengatakan, pabrik tempenya ini sudah berdiri sejak tahun 1981.
“Pada tahu 2010 an atau sebelum Covid-19, harga kedelai hanya Rp.6.800 besar-besarnya Rp.7.000. Tapi setelah pandemi harga-harga mulai naik dari Rp.9.000 hingga sekarang Rp.11.000 mungkin bisa lebih,” jelasnya saat ditemui oleh FC dirumahnya, Rabu (2/6).
Maka dari itu, pihaknya sudah tidak kuat untuk memproduksi tempe lagi.
“Biasanya kami memproduksi tempe 60 Kg hingga 80 Kg, dari 1,5 Kwintal Kedelai. Kedelai pun kami dapat dari Amerika, karena kualitas serta harganya yang masih murah,” jelasnya.
Masih kata Fari, apa lagi pada masa seperti ini, harga-harga mulai pada naik, maka semakin banyak pula yang gulung tikar akibat harga kedelai yang melambung tinggi.
Banyaknya pabrik tempe, bukan hanya disebabkan oleh naiknya harga kedelai, akan tetapi kurangnya minat generasi muda untuk meneruskan usaha pabrik tempe tersebut.
“Jaman sekarang, anak muda itu pada malu untuk meneruskan pabrik tempe ini, karena pikirnya sekolah sudah tinggi tapi hanya menjadi pekerja di pabrik tempe ini,” ujarnya.
Untuk kedepannya, lanjut Fari, semoga pabrik tempe terus berjalan, dan semoga banyaknya minat dari generasi muda yang mau meneruskan usaha pabrik tempe ini.
“Jangan hanya gengsi yang di depankan, tanpa adanya penerus dari usaha ini, mungkin tidak mungkin tempe di Indonesia akan punah,” pungkasnya. (Zenn).










































































































Discussion about this post