Oleh : Mas’ud Dzakiri,S.Ag.
(Kepala KUA Kecamatan Kalimanggis)
Setelah akhirnya dinyatakan Indonesia juga terpapar Corona. Dengan cepat berdampak pada menurunnya sektor Pariwisata, penerbangan, hotel, kuliner, ritel, bahkan juga pusat perbelanjaan. Hampir semua jadwal penerbangan di semua Bandara Internasional dari dan menuju Indonesia ditunda bahkan dibatalkan. Corona telah membuat suasana mencekam, menebar teror kematian.
Tidak hanya Indonesia, Iran dan Saudi Arabia pun sama. Saudi Arabia telah mengumumkan penutupan sementara perjalanan Ibadah Haji. Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga menghimbau masjid seluruh Indonesia melakukan penyemprotan disinfektan. Itulah fenomena waktu lalu saat Corona mengharu biru.
Pandemi Covid-19 telah menjadi pukulan telak terhadap perekonomian banyak keluarga. Hal ini telah menjadi permasalahan tersendiri, bahkan menjadi ancaman terhadap keberlangsungan terhadap kontruksi keluarga sakinah. Menurut Livana, P. H., et al. (2020: 37-48) bahwa perekonomian masyarakat begitu terdampak secara signifikan oleh Pandemi Covid-19. Karena pandemi ini banyak masyarakat yang mengeluh dan terpaksa harus terhenti aktivitas dan pekerjaannya. Hal lebih lanjut disampaikan oleh Sina, Peter Garlans. (2020: 239-254). bahwa daya beli yang menurun membuat pertumbuhan produk domestik bruto atau PDB Indonesia bakal merosot menjadi 2,3% hingga -0,4%. Jika dibandingkan dengan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 yang mencapai 5,3% maka angka itu berada jauh di bawahnya. Bahkan diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3% dalam skenario yang lebih terpuruk bisa mencapai angka – 0,4%. Dan karena tidak melakukan aktivitas dan pekerjaan, sektor rumah tangga akan mengalami keterpurukkan cukup besar dari sisi konsumsi diprediksi akan menurun antara 3,22% hingga 1,60% (Warta Ekonomi, 2020).
Sementara Sekretaris Kemenko Perekonomian mengatakan, PHK menimpa kepada sebanyak 3,05 juta orang pekerja di Indonesia. Mereka dirumahkan akibat Pandemi Corona yang terjadi di Indonesia semenjak 3 Maret 2020.. Efek lanjutannya diprediksi angka pengangguran bertambah sebanyak 5,23 juta jiwa jika Virus Corona terus menyerang.. Bahkan hasil survey SMRC menunjukkan bahwa ekonomi rumah tangga diprediksi akan menjadi kurang baik menurut 59% responden. Angka ini sebagai gambaran rasa pesimistis responden terhadap terhadap kondisi ekonomi nasional setahun ke depan (CNBC, 2020).
Mitra (2020) juga menemukan bahwa perusahaan-perusahaan cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak pandemi Covid-19, Hal ini berdampak pada hilangnya pendapatan tenaga kerja. Hasil survey yang dilakukan Institute Of International Finance (IIF) juga menemukan bahwa kenaikan hutang ekonomi rumah tangga terjadi karena pandemic COVID-19 penelitian Baker (2020) juga menyatakan bahwa terjadi peningkatan belanja credit card dan makanan oleh rumah tangga.
Maka perlu ditempuh strategi untuk mempertahankan keutuhan keluarga. Segala daya dan usaha ditempuh untuk bisa survive ditengah hantaman persoalan ekonomi yang diakibatkan Pandemi Covid-19. Seperti hasil penelitian Dilawati, Rika, Eni Zulaiha, and Yeni Huriani (2021) akibat pengalihan sekolah secara daring membuat para pekerja perempuan yang kehilangan pekerjaan mengalami dilema yang sangat besar untuk mengurus anak-anaknya. Hal ini membuat para pekerja perempuan berupaya menemukan solusi untuk memenuhi kebutuhan
finansial keluarganya. Kebanyakan mereka bekerja dengan cara berjualan yang modal nya sedikit, dan di antara mereka ada pula yang hanya menunggu bantuan dari pemerintah sambil bertukar peran dengan suami.
Euis Sunarti, .pengarang Buku “Ketahanan Keluarga Indonesia di Masa Pandemi Covid 19 mengistilahkan semua “dipaksa” untuk beradaptasi menyesuaikan diri dengan Pandemi sehingga terlahirlah istilah “adaptasi kebiasaan baru”. Para orang tua dipaksa untuk membaca dan memahami buku pelajaran anaknya lalu mengajarkannya kepada anaknya yang belajar dari rumah. Pegawai kantor, guru, dosen, peneliti laboratorium, peneliti sosial wartawan, pedagang, pegawai industri, semuanya dipaksa untuk menyesuaikan cara kerja dengan work from home (WFH).
Namun beberapa orang justru mengambil hikamah positif misalnya sebagai kesempatan untuk menjadi orang tua sekaligus menjadi “guru” yang baik untuk anak-anak. WFH juga bisa dijadikan ajang untuk mengeratkan interaksi, membangun komunikasi lebih dekat lagi dengan anggota keluarga, bahkan juga dengan lingkungan tetangga dan masyarakat. Keluarga muslim misalnya mencari saluran baru dengan mengikuti pengajian secara online, Contoh ada layanan tahsin online yang diikuti oleh ribuan peserta. Namun semua ini ditegaskan Sunarti, Euis.(2021) hanya bisa diraih oleh pasangan suami-isteri yang mencapai kematangan yang oprimal sehingga mampu menggali hikmah dari itu semua.
Kunci utamanya adalah, bertahan di masa pandemi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Seperti dihasilkan penelitian Tawakal, Andri Amin, et al (2021) yang meneliti pedagang kaki lima di sekitar kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang terus berjualan di masa pandemi. Hasilnya adalah bahwa meskipun di masa pandemi, terus mencari nafkah untuk ketahanan rumah tangga adalah sesuatu yang harus dilakukan.
Seribu satu jurus yang ditempuh dalam masa adaptasi kebiasaan baru itu sejatinya adalah upaya dalam rangka bisa bertahan di masa pandemik. Kemampuan melewati itu semua akan membentuk sebuah kekebealan dan antibodi. Secara fisik, yakni tubuh yang bisa berhasil melewati serangan virus akan membentuk sistem imun sehingga bisa kebal terhadap virus yang menyerang dengan ganas. Hal ini juga ditambah lagi dengan program vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah. Semua dalam rangka membentuk sistem imunitas tubuh (fisik)
Dalam aspek kajian fsikologi, kemampuan individu dan keluarga untuk bertahan melewati masa pandemik juga akan membentuk sistem antibodi dan imunitas kejiwaan. Keluarga yang mampu bertahan melewati itu semua adalah keluarga yang mampu bangkit setelah mengalami keguncangan yang luar biasa . Itulah sebuah resiliensi. Sebuah keyakinan bahwa kita akan bisa melewati masa pandemik dengan sebaik-baiknya. Karena kita yakin bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan ujian di luar batas kemampuan.
Para ahli psikologi mendefinisikan resiliansi adalah kemampuan untuk bangkit dari pengalaman buruk dan menyakitkan (Smith-Osborn, 2007(. Satelah kejadian buruk yang dialami seseorang yang menghancurkan kehidupan yang dibangun secara susah payah. Sebuah peristiwa yang membuatnya terjatuh begitu hebat, terjerembab tragis hingga tak berdaya. Setelah melewati itu semua seorang individu sejatinya diberi potensi dan kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan. Inilah resiliansi. Kemampuan untuk bangkit itu datang sebagai hasil dari keterpurukan. Artinya untuk punya kekuatan semacam itu, seorang individu harus meraskan kehancuran terlebih dahulu. Itulah sebabnya dalam ilmu psikologi, kegalauanm kegundahanm dan keguncangan tidak harus ditakuti dan dihindar. Malah sebaliknyam harus dihadapi dan berhasil dilewati. Sebab setelah berhasil melewati kekacauan itu ia akan ber-resiliansi. Berkemampuan untuk bangkit kembali. Keberadaannya tak ubahnya seperti sebuah antibodi yang dihasilkan tubuh ketika ia berhasil menghadapi racunm atau virus. Seorang yang telah terpapar virus Corona misalnya, jika ia bisa bertahan maka tubuhnya akan mempunyai daya imun terhadap virus tersebut. Wa Allahu a’lam bissawwab.***















































































































Discussion about this post