MAJALENGKA, (FC).- Dalam usaha mengendalikan populasi hama tikus yang merugikan, Petani asal Desa Wanasalam Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka, melaksanakan kegiatan gropyokan untuk memburu hama tikus dengan memanfaatkan metode tradisional yang efektif, yakni dengan cara penggembosan memakai racun tikus disertai belerang, pada Jumat (15/5).
Dalam kegiatan gropyokan tikus ini, digunakan alat tradisional dan alat emposan yang berbentuk seperti knalpot. Alat tersebut terdiri dari sebuah alat sederhana yang mirip dengan fogging.
Isinya terdiri dari bubuk belerang, jerami kering, atau areng yang kemudian dibakar. Setelah itu, tuas pada alat tersebut diputar untuk menghasilkan asap.
Asap tersebut kemudian dimasukkan ke dalam lubang rumah tikus ya g ada di pematang sawah dan ditutup dengan tanah.
Dalam waktu singkat, tikus-tikus baik induk maupun anakannya mati. Gropyokan ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi populasi tikus yang merusak hasil pertanian.
“Kami melaksanakan gropyokan tikus sebagai upaya pengendalian yang aman dan efektif. Metode ini telah digunakan secara turun temurun oleh masyarakat lokal, dan hasilnya terbukti sangat efektif,” ungkap Tarya petani Blok Lameta Desa Wanasalam, Jumat (15/5).
Hal sama juga dikatakan petani lainnya Sakim, petani tidak menggunakan aliran listrik atau metode lain yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka sendiri.
“Pemakaian aliran listrik dalam pengendalian tikus sangat berbahaya dan melanggar hukum. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat untuk mengadopsi metode tradisional yang aman seperti gropyokan tikus,” tambahnya.
Kegiatan gropyokan tikus ini mendapatkan respon positif dari masyarakat setempat. Petani merasa terbantu dan lega dengan adanya upaya pengendalian tikus yang dilakukan oleh petani. Mereka berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkala untuk menjaga kestabilan produksi pertanian di daerah mereka.
Pemerintah desa juga berkomitmen untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan pertanian.
Dengan mengembangkan metode pengendalian hama yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, diharapkan dapat tercipta kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam.
Tampak sebagian petani memakai alat tradisional, tongkat dan kayu. Dengan adanya kegiatan gropyokan tikus yang dilaksanakan oleh para petani, diharapkan populasi tikus dapat terkontrol secara efektif tanpa mengorbankan keselamatan dan lingkungan.
Kearifan lokal ini menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat memberikan solusi praktis dalam menghadapi permasalahan di lingkungan sekitar.
Gropyokan tikus adalah kegiatan masyarakat untuk membasmi hama tikus di sawah. Kegiatan ini merupakan kearifan lokal yang dilakukan secara gotong royong oleh para petani. Gropyokan tikus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi.
Mencegah petani dan masyarakat tertular penyakit dari tikus. Menumbuhkan rasa gotong royong dan silaturahmi antar petani.
Gropyokan tikus biasanya dilakukan pada awal musim tanam sebelum tikus berkembang biak. Cara melakukan gropyokan tikus menggunakan alat obor, seperti gas LPG, sprayer obor, dan belerang. Menggunakan tongkat untuk memukul tikus yang keluar dari lubang. Menggunakan alat emposan yang berisi bubuk belerang, jerami kering, atau areng yang dibakar untuk menghasilkan asap.
Memasukkan asap ke dalam lubang rumah tikus sawah dan menutupnya dengan tanah. Selain gropyokan tikus, pengendalian hama tikus sawah juga dapat dilakukan dengan pengasapan. (Munadi)














































































































Discussion about this post