JAKARTA, (FC).- Perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 menunjukkan pertumbuhan positif.
Berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB), ekonomi Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.447,7 triliun.
Secara tahunan atau year on year (y-on-y), ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen dibanding triwulan I-2025.
Pertumbuhan tersebut terjadi di hampir seluruh lapangan usaha dan komponen pengeluaran.
Dari sisi produksi, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen. Pertumbuhan signifikan juga terjadi pada sektor Jasa Lainnya sebesar 9,91 persen serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,04 persen.
Sementara itu, Industri Pengolahan yang menjadi penopang utama ekonomi nasional tetap tumbuh solid sebesar 5,04 persen. Industri ini masih mendominasi struktur perekonomian Indonesia dengan kontribusi sebesar 19,07 persen.
Selain Industri Pengolahan, sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi nasional yakni Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 13,28 persen, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 12,67 persen, Konstruksi sebesar 9,81 persen, serta Pertambangan dan Penggalian sebesar 8,69 persen. Kelima sektor tersebut menyumbang 63,52 persen terhadap total perekonomian Indonesia.
Di sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang meningkat 21,81 persen.
Selain itu, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) tumbuh 6,28 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5,96 persen, serta Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 5,52 persen.
Ekspor barang dan jasa turut tumbuh sebesar 0,90 persen. Sementara impor barang dan jasa, yang menjadi faktor pengurang dalam PDB, meningkat sebesar 7,18 persen.
Meski tumbuh secara tahunan, ekonomi Indonesia secara kuartalan atau quarter to quarter (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen dibanding triwulan IV-2025.
Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 8,20 persen.
Penurunan juga terjadi pada sektor Jasa Pendidikan sebesar 6,89 persen serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 5,50 persen.
Sebaliknya, sejumlah sektor masih mencatat pertumbuhan positif secara kuartalan. Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib tumbuh tertinggi sebesar 13,04 persen, diikuti Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 9,56 persen serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 3,91 persen.
Dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami kontraksi terdalam sebesar 30,13 persen dibanding triwulan sebelumnya.
Secara spasial, Pulau Jawa masih mendominasi struktur ekonomi nasional dengan kontribusi sebesar 57,24 persen dan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,79 persen secara tahunan.
Posisi berikutnya ditempati Pulau Sumatera dengan kontribusi 22,08 persen, Kalimantan 7,99 persen, Sulawesi 7,12 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,80 persen, serta Maluku dan Papua sebesar 2,77 persen.
Adapun pertumbuhan ekonomi tertinggi secara regional dicatat oleh kelompok provinsi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen.
Disusul Sulawesi sebesar 6,95 persen, Jawa 5,79 persen, Sumatera 5,13 persen, Maluku dan Papua 4,46 persen, serta Kalimantan sebesar 4,08 persen.***
sumber: bps.go.id













































































































Discussion about this post