KAB. CIREBON, (FC).- Polemik banjir yang masih menerjang sejumlah perumahan di Kecamatan Tengahtani Kabupaten Cirebon, pemerintah desa mengklaim selama ini tidak tinggal diam.
Empat desa di kecamatan Tengahtani sejauh ini sudah mengupayakan dengan mengajukan normalisasi aliran sungai Cipager, yang dinilai sebagai penyebab utama banjir.
Hal ini seperti tertulis dalam surat nomor 147/Des/01/2016 Tengahtani, perihal penting pada 08 Maret 2016 yang ditujukan kepada Yth. Bapak Bupati Cirebon dan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Cirebon di Sumber.
Kuwu Desa Dawuan, A’ung Suchrawardi mengatakan, tidak hanya rapat dengan warga terdampak kami disini juga sudah mengajukan untuk adanya normalisasi namun sampai saat ini belum terealisasi.
“Ini perlu bantuan Pemkab, bukan masalah kami ditingkat desa semata, agar banjir bisa dicegah,” kata A’ung kepada FC, kemarin.
A’ung menambahkan, banjir tidak hanya terjadi di satu perumahan saja, namun juga menerjang perumahan lainnya. “Terlebih secara pengelolaan masih atas nama pihak developer,” imbuh A’ung.
Banjir akibat luapan dari Sungai Cipager sendiri masih terjadi saat hujan besar turun, wilayah yang paling parah salah satunya terjadi di wilayaj Perumahan Lovina Village.
Diberitakan sebelumnya warga Perumahan Lovina Village, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon menuntut adanya solusi terbaik untuk penanganan banjir di wilayah mereka.
Hal ini menyusul dua tahun terakhir pasca pertemuan warga Perumahaan Lovina Village dengan unsur pemerintahan desa, kecamatan maupun pihak developer Trusmi Land, hingga kini belum menemukan solusi.
Ketua RW 06 Perumahan Lovina Village, Erwin Widiyono saat ditemui Fajar Cirebon mengatakan, sejak awal berdiri memang Perumahan Lovina Village ini sudah menjadi langganan banjir.
“Kami sudah duduk bersama mencari solusi namun terkesan dibiarkan dan menganggap ini hal biasa, padahal kami warga disini yang merasakan dampaknya, kami berharap segera ada solusi,” desak Erwin.
“Air banjir datang dari luapan sungai Cipager, jadi ketika hujan besar atau kecil ketika air di sungai cipager naik hingga 70 cm keatas, kami harus waspada karena otomatis banjir merendam perumahan kami,” tambah Erwin.
Erwin menjelaskan, meski sekarang tidak semua terdampak, namun ini menjadi trauma, karena di tahun sebelumnya air sempat merendam hampir semua blok di Perumahan Lovina Village.
“Perumahan ini terbagi ke dua wilayah yaitu Desa Dawuan dan Desa Kemlaka Gede, kedua-duanya belum memberikan solusi bencama alam ini,” terang Erwin.
Lebih lanjut kata Erwin ini dilakukan apakah karena perumahan ini masih tanggung jawab developer, namun sama saja dari pihak developer Trusmi Land sendiri tidak bertanggung jawab terkait masalah banjir ini.
“Kami sempat mengajukan pengadaan perahu karet, namun sampai sekarang belum terwujud,” pungkas Erwin.(Egi/Job/FC).















































































































Discussion about this post