Oleh : Syahrul Kirom, M.Phil
Sejak diluncurkannya situs web jejaring sosial bernama Facebook yang didirikan oleh Mark Zuckerberg pada tanggal 4 Desember 2004 lalu, facebook memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan teknologi modern di dunia dan bangsa Indonesia saat ini. Facebook sebagai sebuah bagian dari teknologi, saat ini telah digunakan oleh masyarakat Indonesia. Teknologi yang berupa facebook ini diciptakan sebagai upaya untuk mengatasi keterbatasan fisik manusia. Akan tetapi, saat ini fungsi facebook berubah dan bisa juga digunakan sebagai alat politik dan kekuasaan.
Tulisan ini akan membahas mengenai facebook dalam hubunganya dengan kekuasaan (power) dan hegemoni teknologi. Dengan mengggunakan analisis terhadap pemikiran utama Andrew Feenberg dan pandangan tokoh filosof teknologi lainnya seperti Michel Foucault, Emmanuel G Mesthene, John McDermott dan bahkan Martin Heidegger.
Facebook yang pada mulanya digunakan dan difungsikan sebagai alat komunikasi, meminjam analisis Thomas Kuhn-mengalami pergeseran paradigma (shift paradigm). Sehingga dengan jelas, bahwa facebook bisa digunakan secara mena-mena untuk kepentingan tertentu, kepentingan politik dan kepentingan sosial, ekonomi dan alat melanggengkan kekuasaan. Karena itu, melihat realitas di lapangan ada beberapa kasus dan masalah saat ini yang terjadi di Indonesia, terkait dengan penggunaan facebook, facebook digunakan sebagai alat untuk mendukung salah satu pihak dan bahkan untuk menjatuhkan kelompok tertentu.
Pertanyaannya secara filosofis adalah kemudian kenapa facebook bisa digunakan sebagai alat kekuasaan dan hegemoni teknologi dan bahkan sebagai alat hegemoni untuk kepentingan tertentu?
Paradigma yang dinginkan oleh Mark Zukherberg sang penemu facebook, mengalami perubahan terhadap cara penggunaan facebook yang seharusnya digunakan untuk komunikasi. Kini, facebook digunakan sebagai alat kekuasaan (power) dan kepentingan politik. Perubahan paradigma itu sangat wajar sekali, hal itu disebabkan sebagaimana diungkapkan oleh Andrew Feenberg, seorang pemikir filsafat teknologi, mengatakan bahwa keberadaan teknologi telah menjadi syarat mutlak terciptanya sebuah masyarakat demokratis. Tanpa teknologi, tak akan ada perubahan politik yang murni dan progresif, bila politik tanpa teknologi, maka teknologi menjadi statis. Sehingga untuk mencapai kemajuan peradaban mestilah ada rekonstruksi sosial sebagai sebuah proses dialektis yang mensyaratkan perbuahan teknologi dan masyarakat.
Ian Barbour dalam karyanya “Ethic In An Age of Technology” \(1990), menegaskan bahwa teknologi, dalam konteks ini adalah facebook juga sangat berkaitan dengan sebuah institusi, birokrasi pemerintahan, di mana fungsi facebook terkadang juga bisa digunakan untuk melegitimasi kekuasaan di dalam insititusi dan birokrasi pemerintah. Teknologi telah masuk ke dalam stuktur pemerintahan sebagai agen koorporasi. (Ian Barbour, 1990:16).
Karena itu, tak salah kiranya bila teknologi bisa menjadi – meminjam analisis Andrew Feenberg – sebagai sebuah biopower dan biopolitik. Teknologi menjadi pusat untuk membentuk kekuasaan dan membentuk pusat politik. Berdasarkan hal ini, dengan adanya teknologi memiliki kemudahan untuk menciptakan kesadaran manusia agar mengikuti apa yang dinginkan oleh teknokrat dan birokrasi negara, pemerintahan dan organisasi.
John McDermott, mengatakan teknologi adalah sebuah sistem yang sangat kompleks dan luar yang secara disadari atau tidak mempunyai intervensi secara personal di dalam mengopersikan sistem dan diluarnya dipengaruhi faktor politik. Teknologi telah menciptakan dirinya untuk berpolitik (2003:642). dan untuk menciptakan kesadaran dalam upaya membangun kekuasaan.
Kita semua percaya bahwa terbentuknya teknologi facebook sebagai situs jejaring sosial mengandung banyak tendensi dan kepentingan yang bisa meningkatkan konsentrasi dalam membuat keputusan di dalam kekuasaan yang terdapat di tangan para penguasa yang memegang teknologi. Facebook sebagai alat teknologi dengan fitur dan tampilan yang sangat mudah dipahami seseorang saat ini telah banyak digunakan oleh elite politik dan pemerintahan dalam membentuk otoritarianisme dan melanggengkan kekuasaan. Facebook dengan sangat mudah dilakukan oleh kelompok tertentu untuk menggalang massa.
Andrew Feenberg dalam tulisan artikelnya“Democratic Rationalization : Technology, Power dan Freedom“ menyebutkan bahwa teknologi pun juga digunakan dalam melakukan legitimasi yang sah dalam merebut kekuasaan. Teknologi adalah sumber kekuasaan publik di era modern saat ini (Andrew Feenberg, 2003:652). Teknologi saat ini tidak hanya berkutat pada pembicara mengenai teknik, mesin, industri dan praktis cara digunakan manusia. Akan tetapi, teknologi yang berupa facebook saat ini telah mampu untuk mempengarhi dan memutuskan kebijakan-kebijkan pemerintahan dan bahkan untuk melakukan konsolidasi politiik melalui dunia maya. Karena itu, kecanggihan facebook sebagai dunia maya kini mulai membumi dan dapat diperankan dalam konteks politik nasional dan politik global.
Facebook saat ini telah mampu mengubah paradigma seseorang dan elite politik. Teknologi telah mengubah hidup manusia dan teknologi juga telah mampu mengubah sistem politik di Indonesia. Sehingga dengan adanya massa kemungkinan besar pesta demokrasi dalam merebut kekuasaan tidak perlu dilakukan jalan-jalan dan dipanggung-panggung, akan tetapi, hal itu bisa dilakukan hanya dengan membuka dan membuat facebook dengan logo partai politik pun, kemudian para massa tinggal mengklik saja. Oleh karena itu, kekuatan dan kekuasaan ke depan akan memilik kemampuanya yang jauh lebih mudah. Hal itu jelas akan mempengarahui sistem demokrasi dan perpolitikan di Indonesia dan bahkan dunia.
Keberadaan facebook sebagai alat teknologi yang diciptakan oleh manusia tentunya memiliki resiko dan dampak sosial. Emmanuel G Mesthene dalam tulisannya “ The Social Impact of Technological Change” menegaskan bahwa teknologi telah membawa perubahan dari segi pemikiran dan bahkan pada gaya hidup manusia, bahkan manusia ingin mencapai kekuasaan (2003:617).
Dampak dari munculnya teknologi yang berupa facebook adalah saat ini facebook telah digunakan untuk kepentingan politik, dalam konteks ini bisa untuk menjatuhkan lawan politik atau untuk memperkuat posisi pejabat negara yang duduk di dalam struktur pemerintah, dan itulah dampak sosial, dalam artian dampak cara manusia dalam memperlakukan alat teknologi. Hal-hal itu tidak bisa kita tolak. Karena itu adalah bagian dari transformasi (part of transformation) dan perubahan paradigma yang saat ini digunakan oleh manusia. Teknologi telah membawa manusia menuju kehendak dan keinginan manusia.
Selain itu, munculnya teknologi sebagai alat kekuasaan karena manusia mempunyai pandangan deterministik sosial yakni pandangan yang melihat perkembangan teknologi pada umumnya lahir sebagai akibat hubungan kekuasaan dan keputusan-keputusan yang diambil oleh elite politik atau kelompok –kelompok yang memegang kekuasaan (Yudian W Asmin, 1995:154).
Karena itu, saat ini penguasa negara sangat memegang peranan penting terhadap teknologi. Hal itu semua tergantung para penguasa dalam menggunakan teknologi sesuai kehendak yang dinginkan. Facebook juga bisa digunakan oleh elite politik untuk memberikan suatu pencitraan yang positif dalam konteks membangun image yang baik terhadap publik. Padahal, sesungguhnya teknologi juga bisa menipu.
Sementara itu, teknokrasi administrasi, istilah yang sering digunakan Val Dusek menjadi salah satu landasan filosofis yang juga perlu diperhatikan dalam usaha memasukan kepentingan terselubung politik, teknorasi administrasi ini dimaksudkan oleh Feenberg di mana para anggota legislative, yudikatif dan eksekutif dalam sistem pemerintahan dengan menggunakan facebook dalam usaha menjalin kerjasama dengan luar negeri dengan tujuan untuk melanggengkan kekuasaan dan membangun korporasi antar perusahaan –perusahaan. Jalinan itu bisa hanya bisa dilakukan oleh para teknorat di dalam pemerintahan dengan menggunakan facebook di dalam hubungan politik luar negeri (Val Dusek, 2006:38-39).
Di sisi lain, analisis Andrew Feenberg dalam usaha mengkritik tentang paham determinis teknologi sangatlah tepat, sebab apa. Paham deterministik teknologi memiliki muatan politik untuk melanggengkan kekuasaan, setidaknya ada dua premis dalam determinisme teknologi yang bermasalah. Pertama adalah asumsi bahwa teknologi berkembang secara unilinear dari konfigurasi sederhana ke yang lebih kompleks.
Kedua, adalah asumsi bahwa masyarakat harus tunduk kepada perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia teknologi. Kedua premis tersebut sulit diterima karena pola-pola teknologi itu sendiri banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial, kultural, dan politik. Kritik terhadap determinisme teknologi merupakan respons terhadap implikasi politis ideologis yang dihasilkan oleh pahami determinisme teknologi. Ini terjadi karena determinisme teknologi cenderung memaksakan suatu bentuk universalitas struktur institusional teknologi ke dalam masyarakat.
Misalnya, saat ini ketika facebook sebagai alat teknologi dibatasi, maka yang terjadi adalah elite politik bisa melakukan apapun dengan jalan melakukan pemblokiran, apabila ada sebuah protes kepada pihak yang tidak pro dengan kekuasaaan. Justru ketika determinisme teknologi diterapakan jelas akan membuat masyarakat sulit untuk melakukan kontrol. Karena itu, tak salah kirannya bila dalam konteks ini Andrew Feenberg mengkritik pada paham determinisme teknologi, sebab determinisme teknologi telah mengusik dan menganggu kebebasan seseorang dalam menjalankan dan mengoperasikan teknologi yang berupa facebook untuk menjalin kerjasama dengan yang lain. Semoga.












































































































Discussion about this post