Umumnya setiap orang pernah melalui atau bahkan sedang dirundung kebingungan dalam mencari sebuah kebenaran dan realitanya kebijaksanaan manusia dalam menafsirkan dan menerima kebenaran pun di era ini mengalami degradasi yang begitu signifikan. Kebebasan berpikir dengan standar moral yang tinggi sudah seperti barang langka. Bahkan ketika disangkutpautkan dengan hal berbau teologi, terkadang justru menjadi sumber konflik dari banyaknya problematika perbedaan yang ada.
Mayoritas masyarakat mengakui bahwa agama adalah pedoman hidup, berangkat dari hal tersebut maka agama berpengaruh besar atas kedewasaan manusia dalam menanggapi suatu perbedaan kebenaran. Agama bagai dua ujung mata pisau. Satu sisi dengan sisi lainnya bisa menjadi pemberi luka dan pemberi keamanan. Tergantung bagaimana seseorang mengamalkannya. Jika agama dihubungkan dengan masalah politik dan ambisi manusia seringkali itu justru berubah menjadi dasar permasalahan yang tak berkesudahan, berbagai konflik dalam alur sejarah yang terjadi atas nama agama juga telah mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat modern terhadap legitimasi dan otoritas agama dalam menafsirkan kebenaran.
Di sisi lainnya ketika agama dijadikan sebagai pedoman hidup yang lebih menekankan pada aspek spritual atau kejiwaan dan pemahaman nilai nilai kehidupan yang bersifat universal serta komprehensif, maka kedamaian, kesejukan bahkan kebijaksanaan dalam menanggapi perbedaan akan muncul pada tiap pribadi manusia.
Kebenaran yang kita bahas bukan tentang kebenaran empiris, yang dapat diobjektifikasikan berdasar pada proses penelitian dan pengamatan logika ilmiah dengan pendekatan pragmatis, koresponden dan koheren. Namun kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang menimbulkan spekulatif, seperti perbedaan keyakinan, kebudayaan dan bahkan ideologi mainstream sekalipun.
Kita sepakati bahwa terdapat tiga versi kebenaran, yaitu benar menurut saya, benar menurut mereka dan kebenaran hakiki. Sebagai manusia kiranya sulit untuk mencapai tingkatan kebenaran hakiki, karena kebenaran hakiki hanya Tuhan yang mengetahui. Lantas bagaimana tindakan manusia untuk mengatasi ini? Bagi penulis, hal yang tepat untuk dilakukan adalah dengan berupaya agar kebijaksanaan dalam pribadi tiap individu muncul, agar ketika dihadapkan dengan perbedaan, yang muncul bukan lagi pertikaian melainkan lapang dada menerima keberagaman. Karena kebenaran ini memiliki banyak versi, sarat akan ragam kultur dan bersifat subjektif.
Oleh karenanya, Tuhan pun telah memberikan kemudahan bagi hambaNya dengan fungsi akal pada tiap manusia. Tuhan Maha Mengetahui apa yang makhlukNya butuhkan dan apa yang menjadi permasalahannya. Memaksimalkan fungsi akal untuk mengatasi permasalahan kompleks ini dengan membaca seluruh pengetahuan yang ada agar dapat melihat konsep kebenaran secara utuh adalah jalan keluarnya. Membaca suatu hal secara menyeluruh, tidak parsialistik, dan menghilangkan keengganannya untuk menerobos batas sudut pandang pribadi dalam menilai sesuatu.
Akal merupakan media yang tidak boleh dibatasi. Ibarat untuk melihat keindahan sebuah gedung pencakar langit, tidak bisa seseorang hanya melihat dari satu sudut pandang saja, cobalah untuk melihat dari berbagai sudut, maka wajah indah dan megah bangunan tersebut akan didapat.
Memilih yang satu dan menolak spekulasi kebenaran yang lain, sama dengan membatasi diri untuk dapat bersikap toleran dan hormat pada pengetahuan. Ada berbagai banyak dogma yang dipegang, namun tidak elok untuk berpikir secara dogmatis. Artinya, meski nanti akan hadir suasana masyarakat yang bervariatif, kita tidak bisa ekstrem pada satu dogma yang kita pegang dan antipati dengan dogma lainnya.
Terlebih kita sebagai manusia beragama yang diberi mandat untuk menjadi khalifah di muka bumi, haruslah dapat menjaga kedamaian bagi seluruh makhluk, khususnya manusia. Manusia dengan beragam intrik tiap individunya, mau tidak mau harus menciptakan integrasi antar sesama.
Betapa banyak pertikaian yang dihadirkan atas sebab perbedaan, tapi nyatanya bukan perbedaan yang menjadi masalah, melainkan sikap dari manusianya itu sendiri yang hanya mau dipahami tanpa bisa memahami. Berpikir dogmatis dan menolak keberagaman.
Tujuan dari tulisan ini dihadirkan adalah untuk menggiring pembaca agar nantinya mampu dengan kesadaran penuh menjadi manusia manusia yang luhur akhlaknya dalam memaknai sebuah perbedaan dan mampu memahami bahwa kebenaran bukan hal yang mutlak, namun dinamis. Yang menurutmu benar tidak berarti benar untuk mereka, yang menurutmu salah bukan berarti kamu benar. Penting juga ditambah dengan proses dialog yang “beretika “, dengan elemen dasarnya adalah melihat yang lain atau mengalami sisi yang lain.
Dialog yang ditandai akan semangat kesetaraan dan nuansa saling mendukung, menghormati dan menghargai. Maka sekali lagi perlu ditekankan bahwa untuk menempatkan nilai pada keragaman dan menghormati budaya yang berbeda membutuhkan peningkatan tentang keragaman tersebut. Disebutkan juga oleh Brand D Ruben & Lea P. Stewart dalam bukunya Communication and Humas Behaviour, terkait antara individu dan lingkungan (masyarakat).
Dijelaskan bahwa komunikasi dalam hal ini membuat kita mampu beradaptasi dengan orang dan lingkungan. Kita menciptakan dan menafsirkan pesan sebagai pribadi dan bagian dari hubungan kelompok, organisasi, masyarakat. Jadi dalam berbagai kasus proses tersebut nantinya akan menciptakan suatu integrasi dengan penuh toleransi dengan saling memahami satu antar lainnya.
Perjuangkan apa yang menurut kamu benar dan jangan paksakan kebenaran menurutmu kepada orang lain yang sudah memegang kebenaran versi dirinya sendiri. Itu juga berlaku saat agama menjadi bahan pembicaraan menyangkut segala perbedaan. Semua memiliki hak untuk memutuskan, tanpa mengorbankan persatuan dan kesatuan. Terlebih yang menjadi titik di pembahasan ini adalah kita dan masyarakat, luaskan pengetahuan dan hidup dengan mengamalkan toleran dan kesusilaan.
Fraser P. Seitel dalam bukunya The Practice of Public Relations menyebutkan “an individualis or organization ethics come down to the standards that are followed in relationships with other-the real integrity of the individual or a organization. “ Bahwa penerapan etika baik oleh individu maupun kelompok akan menghasilkan hubungan yang baik dengan lainnya. Inilah yang merupakan wujud integritas yang sesungguhnya. Kontemplasi berarti merenung secara mendalam dan perbedaan adalah fitrah. Tinggal bagaimana manusia beragama dan berakal ini dapat melihat serta menghadapi kefitrahan tersebut. Bukan lain ialah dengan merenungi, memahami, membuka, dan akhirnya hidup berjabat tangan bersama menciptakan hidup penuh toleransi bernuansa keberagaman.
Fastabiqul khoirot. Yakin Usaha Sampai.
Oleh: Feri Febriana
Kader HMI Kom Fatahillah UMC













































































































Discussion about this post