KAB. CIREBON, (FC).- Sebanyak 20 ibu hamil (Bumil) akan dites HIV di Puskesmas Plumbon pada peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) yang diperingati tanggal 1 Desember tiap tahunnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Enny Suhaeni melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nanang Ruhyana mengatakan, kenapa pihaknya menyasar ibu hamil dalam pemeriksaan HIV ini, karena, kata Nanang sesuai dengan program pencegahan dan penularan HIV ibu ke anak.
Menurut Nanang, dengan jumlah ibu hamil sebanyak 53 ribu se-kabupaten Cirebon, ditargetkan 60 persen akan dilakukan pemeriksaan HIV/AIDS. Namun, masih dikatakan Nanang, hingga saat ini baru mencapai 42 persen, sehingga masih banyak ibu hamil yang harus diintervensi.
“Harapannya ke depan 100 persen ibu hamil sudah terperiksa HIV/AIDS. Tujuannya adalah mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Tapi, dari ibu hamil yang telah diintervensi oleh kita, alhamdulillah 85 persen anaknya negatif HIV/AIDS, meskipun orang tuanya positif dan itu bisa dicegah,” kata Nanang Ruhyana, Senin (30/11).
Dikatakan Nanang, pada peringatan HAS tahun 2020, pihaknya akan memeriksa ibu hamil sebanyak 20 orang di Puskesmas Plumbon secara live dan dipantau oleh Kementerian Kesehatan. Namun sebelumnya sudah melakukan tes HIV kepada ibu hamil dari tanggal 24 November dan ditargetkan hingga tanggal 20 Desember yang akan datang, diharapkan sasaran sebanyak 13 ribu Bumil.
“Dari tahun ke tahun kasus HIV terus meningkat. Itu sebagai gambaran bahwa kita sudah melakukan pemeriksaan secara massif dengan sasaran populasi kunci ditambah ibu hamil dan juga penderita penyakit TBC,” ujarnya.
Nanang melanjutkan, kasus tahun 2020 sampai dengan bulan Oktober tecatat sebanyak 2.298 kasus, tapi untuk tahun ini hingga bulan Oktober kita menemukan 227 kasus baru.
“Jika dengan tahun lalu ada peningkatan sedikit dan ini belum berakhir sampai dengan Desember kemungkinan akan bertambah. Dan yang meninggal di tahun ini ada 10 orang. Sedangkan ibu hamil tercatat ada 24 ibu hamil yang HIV,” jelasnya.
Diakhir Nanang menambahkan, upaya untuk memutus mata rantai penularan HIV kepada masyarakat, pihaknya telah memiliki inovasi. Ditahun 2019 akhir bahwa ada pemeriksaan HIV terhadap calon pengantin (Catin,-red), kebijakan ini, aku Nanang, bukan untuk membatalkan perkawinannya, akan tetapi lebih secara dini pihaknya melihat apakah pasangan ini sehat atau tidak.
“Kalau ternyata dia HIV, kita berikan intervensi atau pengobatan, sehingga tidak terjadi penularan kepada pasangannya atau ke anaknya yang akan dilahirkan. Sejauh ini kita telah menemukan 2 pasangan Catin yang positif dan tetap dilangsungkan pernikahannya,” tukasnya. (Ghofar/FC)















































































































Discussion about this post