KAB.CIREBON (FC).- Persoalan sampah di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon kembali menjadi sorotan. Tumpukan sampah liar yang muncul di beberapa titik, mulai kawasan Pasar Batik Kecamatan Weru hingga Kecamatan Arjawinangun, dikeluhkan masyarakat lantaran mengganggu kebersihan lingkungan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon mengakui kondisi tersebut terjadi akibat kendala teknis dalam pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Santri.
Sejumlah alat berat yang digunakan untuk penataan sampah mengalami kerusakan sehingga proses pengelolaan di lokasi pembuangan akhir tidak berjalan optimal.
Kepala Bidang Pertamanan dan Kebersihan DLH Kabupaten Cirebon, Suyanto, mengatakan pihaknya tetap melakukan pengangkutan sampah secara rutin.
Namun, gangguan pada fasilitas di TPA berdampak terhadap kelancaran penanganan sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun titik pembuangan liar.
“Beberapa alat berat di TPA Gunung Santri mengalami kerusakan. Akibatnya, penataan dan pengelolaan sampah di sana menjadi kurang maksimal sehingga berdampak pada penumpukan di sejumlah titik,” ujar Suyanto, Rabu (22/7).
Menurutnya, DLH telah melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk mempercepat penanganan, terutama di wilayah yang mengalami penumpukan cukup parah seperti Arjawinangun dan Weru.
Pemerintah daerah menargetkan pengangkutan sampah secara massal mulai dilakukan dalam waktu dekat. Namun, besarnya volume sampah menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Suyanto menyebutkan, khusus untuk wilayah Arjawinangun, sedikitnya diperlukan 20 rit atau kali angkut menggunakan armada dump truck agar tumpukan sampah dapat dibersihkan dan dipindahkan ke TPA Gunung Santri.
Selain kendala alat berat, keterbatasan armada pengangkut juga menjadi faktor yang memengaruhi kecepatan pelayanan.
Saat ini, DLH Kabupaten Cirebon hanya memiliki 64 unit kendaraan pengangkut sampah yang harus melayani wilayah Kabupaten Cirebon secara bergiliran.
Dengan kondisi tersebut, petugas harus mengatur skala prioritas agar pelayanan tetap berjalan di berbagai wilayah yang membutuhkan penanganan.
DLH memastikan penanganan tumpukan sampah liar menjadi agenda utama dalam jangka pendek. Upaya pengangkutan akan dilakukan secara bertahap hingga kondisi lingkungan kembali bersih.
“Prioritas kami saat ini adalah mengosongkan titik-titik tumpukan sampah. Mudah-mudahan dalam beberapa minggu ke depan pengangkutan di Arjawinangun, Weru, dan wilayah lainnya bisa berjalan secara bertahap,” pungkasnya. (Ghofar)









































































































Discussion about this post