KAB.CIREBON,(FC).- Suasana haru penuh duka masih menyelimuti keluarga Heri Santono, warga Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon yang menjadi salah satu korban longsor di area tambang Gunung Kuda, pada Jumat (30/5) lalu.
Heri Santono yang akrab dipanggil Tono ini diketahui bekerja sebagai sopir dump truck di PT AKA Al Zhariyah (pengelola tambang).
Saat kejadian, ia tengah berada di lokasi tambang.
Hingga hari ke empat pasca longsor, jasadnya masih belum ditemukan oleh tim gabungan basarnas.
Proses pencarian dihentikan sementara karena cuaca buruk dan risiko longsor susulan.
Muin, menantu Tono, menceritakan bahwa malam sebelum kejadian dirinya memiliki firasat berbeda.
Biasanya, Tono tidak mau diajak makan bersama keluarga.
Namun malam itu, ia mengiyakan ajakan bancakan (makan bersama) sederhana di rumah.
Tak disangka, ternyata itu momen terakhir kebersamaan mereka bersama Tono.
“Biasanya beliau selalu bilang ‘buang-buang duit sayanglah uangnya’. Tapi malam itu malah datang dan ikut makan. Seperti firasat,” kata Muin, Minggu (1/6).
Sementara di lokasi yang sama, Adik korban, Jono menyampaikan bahwa Tono meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
Anak pertama sudah menikah, namun dua anak lainnya masih tinggal bersama istri Tono dan masih sangat membutuhkan kehadiran sosok ayah.
“Kakak saya tulang punggung keluarga. Sekarang semuanya berubah. Kami benar-benar terpukul dengan insiden longsor mematikan itu” ujar Jono.
Yang membuat keluarga semakin kecewa, hingga saat ini belum ada satupun ucapan belasungkawa maupun tanggapan dari pihak perusahaan tempat Tono bekerja.
“Kami tidak menuntut banyak. Tapi setidaknya, ada empati. Ada tanggung jawab. Jangan diam saja sosialnya sepertinya tidak ada” tegas Jono.
Dalam keseharian, lanjut Jono, korban dikenal sangat berhati-hati dalam bekerja.
Ia selalu mengenakan perlengkapan keselamatan, seperti helm dan sepatu kerja (safety)
Meski demikian, pihak keluarga masih berharap proses pencarian bisa dilanjutkan, agar Tono bisa ditemukan dan dimakamkan dengan layak.
Namun hingga kini, medan yang labil dan kondisi cuaca masih menghambat proses pencarian.
“Kalau pencarian terus dilanjutkan, kami yakin Tono bisa ditemukan. Tapi kami juga sadar, medan sangat berbahaya apalagi masih sering terjadi longsor susulan” ujar Jono.
Kini, keluarga hanya bisa menunggu dalam doa.
Berharap ada keajaiban, sekaligus meminta pihak perusahaan menunjukkan kepedulian.
Mereka ingin, duka ini tidak dibiarkan berlalu tanpa kepastian. (Johan)











































































































Discussion about this post