“Jangan sampai (pengalaman) saya pernah masuk ke satu ponpes besar, saya minta dukungan, Kiyai disana malah bilang, ‘Jang Uu akang ma bade ikhfa dina politik, bade nyelametken lembaga.’ Berbicara seperti itu, kami harap prinsip- prinsip seperti itu ada perubahan lah. Mohon maaf kepada ulama kami bukan menggurui atau apa, tapi supaya kita punya keinginan diwadahi oleh tata negara,” tambah Kang Uu, yang juga Panglima Santri Jawa Barat.
Sehingga, dengan aktifnya ulama dalam perpolitikan baik legislatif maupun eksekutif. Maka akan hadir keputusan yang sesuai keinginan para ulama. Pun keputusan yang didambakan para ulama itu akan terlindungi oleh undang- undang dan hukum ketata negaraan.
Pun situasi dan dinamika politik hari ini, terjadi karena ragam faktor dan berkat pergerakan para insan politik. Sehingga apapun dinamika yang terjadi saat ini, bukan jadi ajang antar- golongan untuk saling menyalahkan. Justru dinamika inilah tantangan sekaligus ladang amal bagi para ulama untuk andil kedalam politik.
“Seandainya situasi hari ini ada hal yang tidak sesuai dengan hati dan nurani para Kiyai, jadi harapan kami para kiyai harus terjun kembali ke dunia perpolitikan. Termasuk didalamnya adalah politik praktis. Jangan menganggap bahwa urusan politik bukan urusan kiyai, bukan urusan ajengan, sehingga kiyai seolah- olah Apriori dan dingin dalam dunia perpolitikan, hanya berfokus pada dunia tarbiyah sementara siyasah ditinggalkan,” katanya.
Kang Uu mencontohkan, bahwa di alam demokrasi setiap masyarakat memang bisa menyuarakan aspirasi. Bahkan dengan berbagai cara, sampai lewat aksi turun ke jalan. Tapi tetap saja, sebanyak apapun masa yang turun ke jalan. Setiap aspirasi tetap harus berproses lewat jalur politik, yang oleh para pemangku kepentingan lah akhirnya suatu keputusan bisa diputuskan.











































































































Discussion about this post