KAB.CIREBON, (FC).- Kondisi lahan pertanian di Kabupaten Cirebon masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya pada lahan sawah pascapanen.
Peralihan metode panen dari tenaga manual ke mesin combine harvester memang meningkatkan efisiensi kerja petani, namun di sisi lain berdampak pada struktur tanah yang menjadi lebih padat dan sulit diolah kembali.
Merespons kondisi tersebut, Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BPMP) Provinsi Jawa Barat melalui Satuan Pelayanan (Satpel) Plumbon menurunkan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa traktor roda empat untuk mengolah lahan persawahan seluas 7,5 hektare di Desa Kertasari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Lahan tersebut direncanakan kembali ditanami padi.
Salah satu petani penggarap, Surya, mengatakan lahan tersebut sebelumnya telah mengalami beberapa kali perubahan komoditas. Awalnya ditanami padi, kemudian beralih ke tebu selama sekitar 10 tahun, dan dalam beberapa tahun terakhir ditanami singkong.
“Sekarang rencananya ditanami padi lagi, sehingga lahannya memang harus diolah dari awal. Kondisi tanahnya cukup keras,” ujar Surya, Rabu (11/2).
Ia mengungkapkan, pengolahan lahan seluas 7,5 hektare secara manual membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, penggunaan traktor roda empat dinilai jauh lebih efektif dan efisien.
Sementara itu, Kepala Satpel Plumbon BPMP Provinsi Jawa Barat, Tatang Supriatna, menjelaskan bahwa secara fungsi, traktor roda empat memiliki peran yang sama dengan traktor roda dua atau hand tractor, yakni untuk pengolahan tanah. Namun, traktor roda empat lebih unggul untuk kondisi tanah yang keras dan padat.
“Traktor roda dua lebih cocok untuk lahan yang gembur. Sedangkan traktor roda empat lebih efektif untuk tanah keras, terutama lahan pascapanen yang menggunakan combine harvester, karena bobot mesin panen tersebut cukup berat dan membuat tanah lebih padat,” jelas Tatang.
Ia menambahkan, penggunaan traktor roda empat diharapkan mampu mengatasi kendala pengolahan lahan pascapanen serta mempermudah pekerjaan petani. Dari sisi kapasitas, secara teoritis alat tersebut mampu mengolah lahan seluas 4 hingga 5 hektare per hari. Namun, pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kondisi lapangan.
“Kami menyesuaikan dengan kondisi tanah. Untuk lahan seperti ini, target realistisnya sekitar 2 sampai 3 hektare per hari agar mesin dapat bekerja optimal dan tidak dipaksakan,” ujarnya.
Terkait mekanisme pemanfaatan alsintan, Tatang menjelaskan bahwa traktor roda empat digunakan dengan skema pinjam pakai melalui kelompok tani. Satpel meminjamkan alat, sementara kebutuhan operasional seperti bahan bakar, operator, dan perawatan menjadi tanggung jawab peminjam.
“Setelah selesai digunakan, alat dikembalikan ke Satpel. Skema ini kami terapkan karena petani sering mengalami kesulitan mengolah lahan setelah panen menggunakan combine. Maka kami dorong penggunaan alsintan, seperti rotavator dan traktor roda empat, sesuai kondisi lahannya,” pungkasnya. (Johan)
















































































































Discussion about this post