KAB. CIREBON, (FC).- Dari sekitar 800 hektare tambak yang ada di Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, kini hanya tersisa sekitar 10 persen yang masih bertahan.
Bahkan hamparan ratusan hektar tambak bandeng yang dulu menjadi sumber penghidupan warga kini perlahan berubah wajah, beberapa diantaranya menjadi tanah kavling.
Pantauan FC di lokasi, Sabtu (17/5), kondisi tersebut tak lepas karena usaha tambak bandeng selalu merugi ditambah cuaca ekstrem yang sering datang secara tiba-tiba.
Air rob yang kian sering datang tak hanya merendam tambak, tetapi juga menggerus harapan para petambak bandeng yang menggantungkan hidup dari hasil tambaknya karena ikan bandeng yang mereka ternak hilang terbawa air rob.
Pemandangan ini menjadi potret nyata bagaimana perubahan lingkungan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat pesisir Desa Ambulu.
Salah satu petambak di Desa Ambulu, Tamsur, mengaku hanya bisa pasrah menghadapi kondisi ini.
Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, intensitas air rob semakin tinggi dan tak kenal musim.
Akibatnya, tambak-tambak bandeng milik warga menjadi sulit diolah.
Banyak petambak yang akhirnya memilih menyerah dan mengubah tambaknya menjadi tanah kavling yang dijual ke pihak lain.
“Tambak bandeng di Desa Ambulu saat ini hanya sekitar 10 persen saja yang masih beroperasi,” ungkapnya.
Menurutnya, banyak petambak yang sudah tidak lagi sanggup menanggung kerugian akibat tambak yang terus terendam rob.
Beberapa lahan tambak yang dulu basah oleh air tambak, kini ditimbun dan dipecah menjadi kavling kecil-kecil untuk dijual.
Harga tanah kavling tersebut, kata Tamsur, berkisar Rp 6,5 juta per bata atau sekitar 14 meter persegi.
“Ya mau gimana lagi. Banyak yang ngurug balongnya, dijual kavlingan. Daripada nganggur, terus rugi terus,” keluh Tamsur.
Namun di balik pilihan itu, Tamsur dan para petambak lainnya sebenarnya berharap ada jalan keluar yang lebih baik.
Mereka berharap pemerintah bisa turun tangan memberikan solusi agar tambak mereka bisa kembali berproduksi, meski ancaman rob terus mengintai.
“Kami ini cuma rakyat kecil. Kalau tambak ini nggak bisa jalan, ya kami mau makan apa? Butuh perhatian lah dari pemerintah,” harap Tamsur.
Tidak hanya petambak yang merasakan getirnya rob yang terus-menerus datang.
Warga sekitar tambak, terutama yang tinggal di Blok Manis, Desa Ambulu, juga ikut merasakan dampaknya.
Aisyah, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa air rob sudah menjadi ‘langganan’ setiap hari.
Air laut yang naik dan menggenangi permukiman membuat warga hidup dalam ketidakpastian.
“Sudah tiap hari begini. Nggak bisa aktivitas tenang. Anak-anak sekolah juga susah, kerja juga susah. Takut air tiba-tiba naik,” keluh Aisyah.
Menurut Aisyah, banyak warga yang trauma dengan kondisi ini.
Setiap kali hujan turun atau angin laut bertiup kencang, kecemasan mereka semakin menjadi.
Tak hanya rumah yang terancam, tapi juga tambak, jalan, dan fasilitas umum.
“Kalau siang mungkin bisa dilihat. Tapi kalau malam, kami semua nggak bisa tidur nyenyak. Takut air tiba-tiba masuk rumah,” imbuhnya. (Nawawi)












































































































Discussion about this post