KAB. CIREBON, (FC).- Semakin hari semakin menjamur. Begitulah fenomena manusia silver saat ini. Bukan hanya dikejar petugas keamanan, mereka pun dibayangi masalah kesehatan yang dapat merenggut nyawa.
Masalahnya, pewarna yang digunakan bukanlah body painting, tetapi cat besi.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr Jessica Angela menyampaikan, apabila suatu hal yang seharusnya tidak berlaku untuk tubuh, khususnya kulit diaplikasikan begitu saja, maka pasti memiliki efek baik secara langsung maupun dalam jangka waktu lama.
Apalagi yang digunakan para manusia silver merupakan cat untuk besi.
“Pastinya ada efek, karena yang dipakai untuk diaplikasikan ke kulit bukan sesuatu yang seharusnya yang dipakai untuk kulit. Pastikan itu pakainya saya kurang tepat pakai cat apa. Mungkin untuk barang-barang lain bukan untuk kulit pasti akan memiliki efek,” terangnya, Sabtu (5/6).
Reaksi yang dapat dihasilkan sendiri beragam. Mulai, dari alergi bahkan kematian.
Bisa dalam waktu kurang dari satu jam atau setelah berjam-jam dan berulang kali pemakaian.
“Tergantung, kalau reaksi alergi itu bisa muncul beberapa jam setelah aplikasi. Kalau memang dia tidak cocok dengan bahan yang ada di dalam cat tersebut. Dalam beberapa saat setelah kontak dapat timbul gejala. Karena, sebenernya itu kan berbeda-beda tiap orang. Ada yang menimbulkan reaksi ada yang tidak. Mungkin kebetulan pada orang tersebut tidak menunjukkan reaksi hipersensitivitas. Jadi dia merasa tidak apa-apa. Tapi, tidak semua orang akan aman,” paparnya.
Baginya, penggunaan suatu produk tidak dapat dipukul rata kepada semua orang.
Apalagi yang bukan ditujukan dan diaplikasikan pada kulit. Meski saat ini belum ada efek apapun, tetapi apabila terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama, bisa dimungkinkam masuk ke penetrasi kemudian terdapat efek samping ke sistemik.
Perihal masalah penyakit dan efek penggunaan cat besinya seperti apa. Bagi Jessica perlu diketahui terlebih dahulu isi kandungannya.
Kemudian, paparan dalam waktu, jumlah dan seberapa banyak ke tubuh itu berapa.
“Yang jelas alergi kulit itu paling bahaya dapat merenggut nyawa,” katanya.
“Itu kita tidak tahu ya bahannya sendiri punya bahan toxicsitas apa kalau ke tubuh. Kalau kulit reaksi alergi paling bahaya bisa mengancam nyawa loh. Karena, kondisi tubuh dan kulit setiap orang berbeda maka efek atau dampaknya pun beragam,” pungkasnya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di lampu merah jalan Siliwangi, dua manusia silver Rohidin dan Ade mengungkapkan, bahwa cat silver yang digunakan memang bukan untuk tubuh, melainkan untuk besi.
Meski begitu mereka tidak ragu menggunakan cat tersebut. Sebab, mereka tidak merasakan gatal atau perih apapun baik saat maupun setelahnya.
“Tidak perih dan gatal. Gatal cuma kalau kena koasnya saja,” kata Rohidin.
Tak hanya satu jam, keduanya membeberkan pada FC, bahwa penggunaan catnya selama 3 jam sehari, dan mereka pun tahu bahaya yang mengancam keduanya jika terus menerus menggunakannya.
Akan tetapi, dengan berdalih hanya 2 sampai 3 hari sekali mencat tubuhnya mereka beranggapan akan aman.
“Cuma 3 jam sehari, itu juga gak setiap hari, paling 2 sampai 3 hari,” jawabnya.
Mengaplikasijan hingga tepat dibawah mata, keduanya mengaku tidak ada efek perih atau apapun, hanya perih ketika cat memasuki mata.
Dikarenakan bukan cat untuk tubuh. Keduanya acap kali menghabiskan waktu 3 jam untuk membersihkan tubuhnya dari cat menggunakan sabun.
“Untuk bersihinnya cuma 3 jam, itu pakai sabun saja. Nggak ada merah-merah atau gatal sih,” pungkasnya. (Sarrah)












































































































Discussion about this post