KAB.CIREBON, (FC).- Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, Klenteng Hok Keng Tong atau Vihara Dharma Sukha yang berlokasi di Desa Weru Kidul, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, mulai menggelar rangkaian ritual keagamaan.
Salah satunya adalah ritual sembahyang Be Gwee, yang dilaksanakan sepekan sebelum Imlek sebagai bagian dari tradisi tahunan umat Tionghoa.
Ketua Yayasan Vihara Dharma Sukha, Kusnadi Halim, menjelaskan bahwa Be Gwee merupakan ritual persembahyangan sebagai bentuk ungkapan terima kasih dan rasa syukur kepada para dewa, khususnya Dewa Hok Tek Ceng Sin yang bersemayam di altar Klenteng Hok Keng Tong.
“Be Gwee pada dasarnya adalah ucapan terima kasih dan rasa syukur. Selama satu tahun kami diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan perlindungan, meskipun tentu ada berbagai tantangan yang dihadapi,” ujar Kusnadi, Rabu (11/2).
Selain sebagai wujud syukur, ritual Be Gwee juga diyakini sebagai momen mengantarkan para dewa untuk naik ke langit guna menyampaikan laporan kepada Kaisar Langit mengenai perilaku dan kehidupan umat manusia selama setahun terakhir. Oleh karena itu, jenis persembahan yang disajikan didominasi oleh makanan manis.
“Persembahan seperti dodol, permen, dan manisan disiapkan dengan harapan laporan yang disampaikan para dewa juga bersifat manis-manis tentang umatnya,” jelasnya.
Dalam rangkaian Be Gwee, juga terdapat tradisi Cap Jie Gwee Ji Si yang menandai dimulainya masa persiapan menyambut Imlek. Setelah diyakini para dewa meninggalkan altar, pihak klenteng melakukan pembersihan menyeluruh.
“Mulai dari membersihkan patung dan altar hingga pengecatan ulang dinding yang sudah kusam. Karena diyakini altar sedang kosong, ini menjadi waktu yang tepat untuk bersih-bersih total,” kata Kusnadi.
Setelah seluruh persiapan rampung, umat akan melaksanakan sembahyang malam Tahun Baru Imlek atau malam Ce It. Tahun ini, perayaan Imlek memasuki tahun 2577 Kongzili, yang dihitung berdasarkan kelahiran Nabi Kongzi (Konghucu).
Pada hari pertama Imlek, aktivitas di Klenteng Hok Keng Tong biasanya relatif sepi karena umat lebih banyak berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, dan mengunjungi orang tua. Suasana klenteng kembali ramai pada hari keempat Imlek, saat digelar ritual penyambutan turunnya kembali para dewa ke altar.
“Di hari keempat, klenteng sudah dalam kondisi bersih, lampion terpasang, dan altar tertata rapi. Para dewa dipersilakan kembali ke altar,” ungkapnya.
Rangkaian perayaan Imlek kemudian ditutup dengan sembahyang Tikong pada malam tanggal 8 menuju 9 Imlek, tepat pukul 00.00. Dalam ritual ini, tanaman tebu menjadi perlengkapan wajib yang diletakkan di sisi kiri dan kanan altar.
“Tebu melambangkan perlindungan. Ada sejarahnya dari Tiongkok, saat masyarakat bersembunyi di kebun tebu untuk menghindari kejaran penguasa dan berhasil selamat. Simbol ini masih dipercaya hingga sekarang,” pungkas Kusnadi. (Johan)
















































































































Discussion about this post