“Dia bukan orang sok menasihati menggurui. Dia memberikan pesan beristiqomah bershalawat,” ujar Penulis Novel Mata Penakluk Manaqib KH Abdurrahman Wahid, itu.
Baginya, sosok Kiai Ayip sangat sederhana. Ia tak ingin menampakkan kekiaiannya dengan tampil berorasi di atas panggung, tetapi justru melebur dengan masyarakat.
“Bagaimana beliau dekat dengan anak yatim. Ditambah lagi geng motor. Itu menunjukkan keberagamaan itu sikap, bukan semata menyitir ayat-ayat,” pungkasnya.
Kiai Ayip pernah menempuh studi di Lucknow, Uttar Pradesh, India di bawah bimbingan Syekh Abul Hasan Ali Hasani An-Nadwi, seorang ulama tersohor dari Negeri Bollywood pada abad 20.
Khidmatnya pada Nahdlatul Ulama ditunjukkan dengan keaktifannya sebagai Dewan Khos Pimpinan Pusat Pencak Silat Pagar Nusa dan pengurus Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) PBNU. Jauh sebelum itu, ia juga turut mendampingi ayahnya, KH Abdullah Abbas, sosok kiai sepuh yang sangat dihormati oleh Gus Dur.
Kiai Ayip wafat dalam usia 53 tahun, dengan meninggalkan satu orang isteri, Nyai Aliyah dan tiga orang putri, yaitu Fatimah azzahra (18), Fakhita fadla (15) dan Sayyidah Nafisah (1.5). (Nawawi)













































































































Discussion about this post