KOTA CIREBON, (FC).- Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Cirebon terus memperkuat komitmen menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat dan aman bagi anak dan remaja.
Bekerja sama dengan Paskibraka Kota Cirebon, DP3APPKB menggelar kampanye anti-bullying yang digelar pada Kamis (7/8/2025) lalu di tengah kegiatan pemusatan latihan Paskibraka.
Kegiatan ini dihadiri Kepala DP3APPKB Kota Cirebon, Suwarso Budi Winarno, dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Cirebon, Buntoro Tirto.
Budi menjelaskan, bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi pihak lain. Bentuknya beragam, mulai dari fisik, verbal, sosial, hingga melalui media digital (cyberbullying).
“Bullying tidak hanya berdampak pada korban secara fisik dan emosional, tetapi juga membentuk perilaku negatif pada pelaku, serta merusak iklim sosial di sekolah dan masyarakat,” jelasnya.
Dalam arahannya, Budi menekankan pentingnya remaja melewati lima transisi kehidupan dengan sukses dan positif. Mulai dari Melanjutkan pendidikan, Memasuki dunia kerja, Memulai kehidupan berkeluarga, Menjadi anggota masyarakat yang aktif, dan Mempraktikkan hidup sehat.
“Semua ini butuh sikap mental positif dan pergaulan yang sehat, bebas dari praktik bullying,” katanya.
Pihaknya juga membagikan langkah-langkah yang dapat menghindarkan seseorang dari perilaku membully, di antaranya saling memahami perasaan orang lain, melakukan kegiatan positif bersama, menghindari pertemanan toxic, hanya mendengarkan ucapan yang baik, serta membayangkan jika berada di posisi orang lain.
Bagi korban atau saksi bullying, ia menyarankan untuk percaya diri, tetap tenang, menolong korban, melawan dengan aman, hingga melaporkan kejadian pada pihak berwenang. Selain itu, peran saksi (bystander) dinilai sangat penting.
“Saksi bisa memilih untuk mendukung pelaku, diam saja, atau membela korban. Paskibraka harus menjadi bystander yang membela korban,” tegasnya.
“Jadilah generasi yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Ingat, kata-kata dan sikap kita bisa menjadi luka atau justru menjadi obat bagi orang lain,” sambungnya.
Melalui kampanye ini, Budi Berharap, anggota Paskibraka menjadi agen perubahan yang menebarkan empati, menghargai perbedaan, dan menciptakan lingkungan pergaulan yang aman, nyaman, dan bebas perundungan, baik di sekolah maupun masyarakat. (Agus)












































































































Discussion about this post