Kaum Pria Dominasi Penular HIV
KOTA CIREBON, (FC).- Secara riil, jumlah pengidap HIV/AIDS baik di dunia maupun di Indonesia masih belum diterungkap angka sebenarnya, hanya permukaannya saja yang terlihat. Maka tidak salah bila ada ungkapan masalah HIV/AIDS di Indonesia bagaikan fenomena Gunung Es.
Karena laporan resmi jumlah kasus tidak mencerminkan masalah yang sebenarnya. Prediksi besar masalah HIV/AIDS tersebut didasarkan atas jumlah penyalahgunaan narkotika suntik dan prostitusi yang tinggi. Keduanya merupakan faktor utama yang berperan sangat besar dalam penyebaran dan penularan HIV.
Dalam memperingati Hari AIDS Sedunia, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon menegaskan kembali komitmennya untuk membongkar kasus HIV/AIDS. Demikian diungkapkan Sekretaris Komisi Perlindungan Aids (KPA) Kota Cirebon Sri Maryati, usai kegiatan peringatan Hari AIDS sedunia di Co Working Space (CWS) DKIS Kota Cirebon pada Rabu (1/12). Peringatan dihadiri oleh Asisten Daerah, Kepala Perangkat Daerah dan Tim Penanggulangan AIDS Kota Cirebon.
“Kasus HIV/AIDS ini seperti fenomena Gunung Es, terlihat kecil di atas tapi jauh lebih besar lagi yang tersembunyi dibawahnya,” jelasnya.
Sri menyatakan, telah ada komitmen lintas sektor untuk membongkar kasus HIV/AIDS di Kota Cirebon. Komitmen ini dilakukan demi mencapai target akhir epidemi di tahun 2030. Bagaimana semua pihak terlibat untuk membongkar semua bongkahan es yang ada dibawah, agar semua kasus ini HIV/AIDS bisa temukan.
Disebutkan Sri, dalam 2 tahun terakhir, KPA Kota Cirebon terus berupaya melakukan tes HIV kepada populasi kunci maupun populasi yang rentan penularan. Hasilnya, pada tahun 2020 ditemukan sebanyak 324 kasus dan pada 2021 hingga Oktober ditemukan 214 kasus. Diungkapnnya juga, latar belakangnya ini didominasi oleh penularan melalui hubungan seksual. Sedangkan dari sisi usianya variatif, mulai dari 19 sampai 45 tahun.
“Kita berupaya keras menghentikan penularan. Bagi yang sudah positif kita pertahankan untuk mengonsumsi obat secara rutin dan patuh. Yang belum positif kita cegah dengan penyuluhan, pembentukan kader, workshop dan berbagai upaya yang kita lakukan di semua elemen masyarakat,” cetusnya.
Pihaknya juga terus berupaya meningkatkan support system terhadap pengidap HIV/AIDS, salah satu tujuannya untuk menghindari stigma dan diskriminasi.
“Pengidap HIV tetap berhak untuk hidup sehat, berkembang, dan menjalin relasi. Kita harus hargai keberadaannya, kemudian kita dukung untuk menjalani kehidupan yang lebih baik,” terangnya.
Sementara untuk sebaran pengidap HIV/AIDS, Sri menyebutkan terbanyak berada di Wilayah Kecamatan Harjamukti. Dengan didominasi pria sebagai penular HIV/AIDS.
“Sejak 2009 penularan melalui jarum suntik berkurang. Saat ini lebih disebabkan hubungan seks baik yang heterogen maupun homoseksual. Jadi meningkatkannya angka HIV/AIDS di Kota Cirebon lebih disebabkan oleh perilaku seks yang tidak aman,” ungkapnya.
Terkait bantuan BPJS bagi penderita HIV/AIDS Sri menyatakan, pihaknya terus berupaya membantu penderita HIV/AIDS untuk mendapatkan BPJS.
“Kita mendorong teman-teman supaya para penderita ini punya BPJS. Dan Alhamdulillah memang Pemkot Cirebon sudah membuka peluang untuk itu. Yang paling banyak permasalahan adalah yang dari luar Kota Cirebon. Sehingga mereka yang datang berobat menggunakan akses biasa yang dianggap harganya terlalu mahal,” paparnya.
Sementara dr Eva M sebagai pelaksana dan penanggung jawab pelayanan HIV di RST Ciremai, juga sebagai dokter pelayanan dukungan dan pengobatan pasien HIV Jawa Barat mengatakan, semua penderita HIV/AIDS bisa disuntik vaksin Covid-19. “Tidak ada bedanya dengan pasien pasien yang bukan HIV. Jadi vaksin Covid-19 sama efek sampingnya sama seperti orang-orang lain yang tidak HIV/AIDS. Oleh karena itu, sebelum dia menerima vaksin Covid-19 ada baiknya berkonsultasi dengan dokter yang merawatnya selama ini,” tutupnya. (Agus)










































































































Discussion about this post