MAJALENGKA, (FC).- Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sempat merebak santer di akhir bulan Maret kemarin, sempat bikin deg-degan masyarakat khususnya para petani yang ada di wilayah Kabupaten Majalengka.
Hal ini dikarenakan BBM bersubsidi khususnya jenis solar sangat dibutuhkan petani untuk kebutuhannya semenjak masa tanam hingga panen tiba.
Kabar yang beredar di medsos bahwa BBM baik yang subsidi maupun non subsidi semua mengalami kenaikan bentuk krisis perang di Timur Tengah yang tak kunjung usai.
Bahkan sempat beredar BBM bersubsidi jenis pertalite naik dari Rp.10.000 menjadi Rp.14.000, dan solar dari Rp 6.800 naik menjadi Rp 9.500.
Beruntung kekhawatiran itu perlahan sirna setelah pemerintah memastikan harga BBM tidak akan naik dalam waktu dekat. Hal ini tentunya membuat para petani bisa bernapas lega dan tidak resah isyu yang hoax tersebut
Dalam beberapa waktu terakhir, setiap kabar kenaikan harga BBM selalu diikuti lonjakan harga bahan baku pertanian. Mulai dari pupuk, obat obatan seperti herbisida dan fungisida, sampai terhadap ongkos pengolahan lahan pertanian.
Sebelumnya, informasi terkait rencana kenaikan harga BBM per 1 April beredar cepat di berbagai platform media sosial. Dampaknya langsung terasa di lapangan. Sejumlah SPBU di Majalengka sepanjang jalur Cirebon – Bandung banyak dipadati kendaraan sejak Selasa (31/3) siang kemarin hingga malam hari.
Antrean panjang kendaraan bahkan terus bertambah seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat yang ingin mengisi bahan bakar sebelum harga naik.
Mereka khawatir kenaikan BBM akan memicu lonjakan harga bahan pokok yang berdampak langsung pada biaya produksi pertanian dan biaya pengolahan lahannya.
Salah satu petani di Kecamatan Ligung, Tarya (62), mengaku sempat dibuat was-was oleh kabar kenaikan BBM tersebut.
Ia bahkan sudah membayangkan dampak buruk yang mungkin terjadi jika harga BBM benar-benar naik.
“Ya, tadinya saya sudah was-was ketika mendengar kabar kenaikan BBM. Tapi pas kemarin malam lihat di TV swasta, kabar kenaikan itu adalah hoax. Jadi ya alhamdulillah banget,” ujar Tarya, Kamis (2/4).
Menurutnya, isu BBM sangat sensitif bagi petani dan masyarakat kecil lainnya karena berpengaruh langsung terhadap harga bahan pokok di pasaran.
“Soalnya untuk petani kayak saya ini, yang dikhawatirkan harga-harga bahan pokok untuk kebutuhan pertanian tuh pada naik. Kayak obat, pupuk, ya semuanya gitu pada naik,” ucapnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga BBM hampir selalu berdampak banget pada seluruh kebutuhan usaha dibidang pertanian, sehingga membuat para petani harus memutar otak agar tetap bertahan.
Namun kini, setelah adanya kepastian dari pemerintah bahwa harga BBM tidak naik dalam waktu dekat, Dirinya dan petani lainnya mengaku lega.
“Ya alhamdulillah, terima kasih banyak. Semoga Indonesia tetap stabil, maju,” jelas dia.
Meski begitu, ia berharap pemerintah tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat sebelum mengambil kebijakan terkait BBM ke depan.
“Ya mudah-mudahan jangan naiklah. dengan posisi ekonomi sekarang ini,” katanya.
Kepastian tersebut pun menjadi angin segar bagi para petani dan pelaku usaha kecil di Kabupaten Majalengka, yang sebelumnya sempat dihantui lonjakan biaya produksi akibat isu yang beredar luas di media sosial. (Munadi)














































































































Discussion about this post