INDRAMAYU, (FC).- Warga petambak yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) membawa karung berisi uang receh ke Pendopo Indramayu, Senin (6/4) sore, Aksi ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab atas kerusakan fasilitas umum saat unjuk rasa yang berujung ricuh beberapa hari sebelumnya.
Dalam aksinya, petambak Indramayu membawa tiga Karung Uang Receh yang berisi uang koin pecahan Rp500 hingga Rp1.000. Jumlah total uang yang dibawa tidak diketahui secara pasti. Uang tersebut dikumpulkan secara swadaya oleh para petambak sebagai bentuk ganti rugi.
Seperti diketahui, Aksi Unjuk Rasa menolak proyek revitalisasi tambak Pantai Utara (pantura) yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Aksi itu berujung pada kerusakan sejumlah fasilitas di Alun-alun Indramayu dan Tugu 0 Kilometer.
Salah satu warga, Haeti, menyampaikan bahwa kedatangan mereka merupakan bentuk itikad baik untuk mengganti kerugian. Ia mengakui aksi sebelumnya dipicu kekecewaan karena tidak dapat bertemu dengan Bupati.
“Kami datang ke sini (Pendopo Indramayu) untuk mengganti kerugian. Waktu demo kemarin (2/4) kami kecewa karena tidak ditemui pak Bupati, lalu kami merusak fasilitas seperti pot bunga dan tong sampah dibolak-balik. Kata pak Bupati kerugiannya sekitar Rp100 juta, makanya kami ke sini untuk mengganti dengan uang seadanya,” ujarnya.
Sementara itu,Koordinator Umum KOMPI, Hatta, mengatakan uang tersebut merupakan hasil penggalangan dana dari masyarakat.
“Berapa nominalnya gak tahu, karena terlalu banyak, ngitungnya kami susah, makanya kami serahkan karungnya saja silakan tinggal hitung sendiri, kalau kurang ngomong, nanti kami tambahin,” kata Hatta.
Bentuk Tanggung Jawab, Bukan Sindiran Hatta menegaskan, uang receh itu bukan bentuk sindiran kepada pemerintah daerah.
Menurutnya, nominal tersebut murni berasal dari kemampuan masyarakat kecil yang ikut menyumbang.
“Sengaja uang koin receh karena kami dapatnya hanya itu, orang ngasihnya itu, karena orang awam, orang kecil jadi punyanya itu,” ujarnya. Ia juga mempersilakan publik menafsirkan aksi tersebut, namun menegaskan tidak ada maksud lain di baliknya.
Sementara itu, Bupati Indramayu, Lucky Hakim, mengapresiasi niat baik para petambak, namun menolak menerima uang tersebut. Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan adalah perbaikan fasilitas yang rusak, bukan penggantian dalam bentuk uang.
“Saya tidak mau menerima uangnya, saya tidak pernah meminta uang, yang saya minta adalah perbaikan. Ganti rugi dalam konteks ini adalah dibenahi, bukan diberikan uang,” kata Lucky kepada awak media, usai menemui para petambak
Ia menjelaskan, fasilitas umum yang rusak dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sehingga proses perbaikannya harus melalui mekanisme anggaran pemerintah daerah.
Namun, jika kerusakan dilakukan oleh masyarakat, kata dia, maka perbaikan dapat dilakukan langsung dengan mengembalikan kondisi seperti semula.
Lucky juga menegaskan bahwa menerima uang dari masyarakat dalam konteks tersebut berpotensi menimbulkan persoalan hukum.
“Kalau saya terima uangnya, itu bisa dianggap gratifikasi. Jadi kami tidak mau menerima uangnya, tapi kami menghargai niat baik masyarakat,” ujarnya.
Lucky Hakim berharap kejadian serupa tidak terulang, dan mengajak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara tertib tanpa merusak fasilitas umum.
Pantauan FC di lokasi, Uang Receh tersebut ditumpahkan di Depan Pendopo Karena ditolak pemerintah daerah, massa akhirnya menumpahkan uang receh tersebut di depan pintu masuk Pendopo Indramayu. Setelah itu, mereka membubarkan diri dari lokasi. (Agus Sugianto)











































































































Discussion about this post