MAJALENGKA, (FC).– Puluhan petani dari Desa Biyawak, Kecamatan Jatitujuh, mendesak pihak pengelola Bendungan Rentang, agar membuka pintu air di Sungai Cipelang supaya aliran air kembali normal masuk ke sodetan menuju Sungai Kamun untuk mengairi areal persawahan.
Desakan tersebut dipicu penutupan pintu air sejak dua hari terakhir yang mengakibatkan pasokan air ke sekitar 191 hektare sawah di Desa Biyawak terhenti.
Warga khawatir kalau kondisi itu dibiarkan berlarut larut akan menyebabkan tanaman padi yang telah berusia sekitar dua bulan mengalami kekeringan hingga terancam gagal panen.
Kepala Desa Biyawak, Warjum, mengatakan pemerintah desa sebelumnya telah beberapa kali meminta petugas Bendung Rentang dan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) membuka kembali pintu air. Namun, hingga Selasa pagi belum ada tindak lanjut.
“Pada Senin (6/7) kemarin kami dari Pemdes Biawak sudah meminta Muspika untuk berkoordinasi dengan BBWS, tetapi sampai hari ini pintu air belum juga dibuka,” ujar Warjum, Rabu (8/7).
Karena tidak kunjung mendapat respons, buntutnya puluhan warga mendatangi pihak pengelola Bendung Rentang agar keluhan petani direspon. Namun Setibanya di lokasi, mereka mengaku tidak menemukan satu pun petugas yang berjaga. Kekecewaan warga pun memuncak hingga sempat berupaya membuka pintu air secara paksa.
Warjum menjelaskan warga tidak meminta seluruh pintu air dibuka, melainkan hanya agar debit air yang dialirkan ke sodetan Sungai Kamun ditingkatkan.
“Yang kami minta hanya dibuka sekitar 50 sentimeter supaya air bisa mengalir ke sodetan. Kalau hanya 30 sentimeter tidak akan mengalir, sementara sekarang bukaan pintunya hanya sekitar 20 sentimeter,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan air tersebut hanya bersifat sementara, sekitar satu bulan ke depan, hingga tanaman padi memasuki fase yang lebih aman.
“Warga hanya meminta pasokan air selama satu bulan agar sawah tetap terairi. Saat ini tanaman padi sangat membutuhkan air. Kalau terus dibiarkan kering, hasil panen terancam gagal,” pungkasnya.
Terpisah, Tarya seorang petani Desa Biawak menegaskan agar pihak pengelola Bendung Rentang agar mengerti dan respon terhadap keluhan petani.
“Kami ini petani dan garda terdepan di bidang ketahanan pangan. Jadi tolong minta kebijakan agar air dari Bendung Rentang agar bisa dibuka untuk bisa mengairi pesawahan,” ujar Tarya.
Ditegaskannya, Bendung Rentang berlokasi di wilayah Kecamatan Jatitujuh, jangan sampai pihak Bendung Rentang mengabaikan kebutuhan petani pribumi. Sementara area pertanian Cirebon – Indramayu di prioritaskan.
“Pihak Bendung Rentang harusnya bijak dalam menjalankan tugas dan aturan,” pungkasnya singkat. (Munadi)









































































































Discussion about this post