MAJALENGKA, (FC).– Minggu (5/7) pagi di pemakaman umum keluarga di Desa Talaga Wetan, Kabupaten Majalengka, nampak begitu hening.
Tak ada protokoler yang mencolok. Tidak ada pidato resmi dan tak ada pula pengungkapan kasus korupsi, yang terdengar hanya lantunan doa dan desir angin yang menyapu pepohonan area pemakaman.
Di hadapan deretan nisan itu, Jaksa Agung Republik Indonesia ST Burhanuddin duduk bersimpuh menatap batu nisan kedua orang tuanya. Di sampingnya juga sang kakak, Anggota DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, ikut pula menengadahkan tangan.
Di tempat itu, jabatan seakan kehilangan arti. Tak ada jabatan Jaksa Agung maupun anggota DPR. Yang terlihat hanyalah dua anak yang datang mendoakan ayah, ibu, kakek, nenek, dan saudara-saudara yang telah lebih dulu berpulang.
“Di sini ada makam ibu saya, bapak saya, nenek saya, kakek saya, juga saudara-saudara saya,” ucap Burhanuddin pelan, sembari memandang satu per satu pusara keluarga.
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membawa ingatannya kembali puluhan tahun ke belakang.
Rumah kecil dengan sepuluh anak Burhanuddin tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana. Ia bukan dari keluarga berada atau kaya raya. Ayah dan ibunya membesarkan sepuluh orang anak dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.
Namun justru di rumah sederhana itu pula, nilai-nilai kehidupan ditanamkan. Kebersamaan bukan sekadar diajarkan, melainkan dipraktikkan setiap hari.
Hal senada diungkapkan kakak kandungnya, TB Hasanuddin yang masih mengingat satu pemandangan yang hingga kini tak pernah hilang dari ingatannya. Saat ibunya memasak telur dadar. Bukan telur yang tebal dan mewah. Sang ibu akan membolak-balik telur hingga setipis mungkin, lalu memotongnya menjadi sepuluh bagian yang sama besar.
“Ibu kami membuat dadar telur benar-benar tipis sekali, lalu dibagi menjadi sepuluh bagian. Semua anak mendapat bagian yang sama,” kenangnya sambil tersenyum.
Bagi keluarganya, sepotong telur bukan sekadar lauk. Ini pelajaran pertama tentang keadilan, kasih sayang, dan bagaimana orang tua berusaha memastikan tidak ada satu pun anak merasa lebih atau kurang dari yang lain.
Kehidupan 10 bersaudara itu akrab dengan pekerjaan orang desa. Ayah mereka merupakan seorang petani. Ketika keluarga memutuskan memelihara kambing, sang ayah memberikan syarat sederhana. Kalau ingin memiliki kambing, anak-anak harus ikut bertanggung jawab memberi makan. Setiap pulang sekolah, Burhanuddin dan Hasanuddin kecil memanggul sabit lalu berjalan mencari rumput di pematang sawah.
“Bapak bilang silakan pelihara kambing, tetapi rumputnya cari sendiri. Jadi setiap pulang sekolah kami berdua ngarit,” tutur TB Hasanuddin.
Selesai mencari rumput, mereka masih sempat bermain di sungai, mandi bersama teman-teman, atau mencari ikan di aliran air yang melintasi kampung. Masa kecil mereka jauh dari kemewahan. Namun justru dari kehidupan sederhana itu tumbuh ketangguhan yang kelak mengantarkan keduanya menempuh jalan hidup berbeda. Seorang menjadi jenderal TNI, sementara yang lain dipercaya memimpin Korps Adhyaksa sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia.
Pesan yang Tak Pernah Hilang Di tengah keberhasilan dan kesuksesan yang keduanya raih, ada satu nasihat orang tua yang terus dibawa hingga kini. Nasihat itu bukan tentang jabatan. Bukan pula tentang kekayaan. Melainkan tentang akhir perjalanan setiap manusia.
“Orang tua selalu mengingatkan bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Tuhan (mati). Karena itu hidup harus menjadi persiapan untuk kembali kepada-Nya,” ujar Burhanuddin.
Pesan itu terdengar sederhana. Namun bagi anak anaknya, justru itulah bekal paling berharga yang diwariskan kedua orang tuanya.
TB Hasanuddin meyakini, latar belakang keluarga tidak pernah menentukan batas mimpi seseorang. Ia dan adiknya menjadi bukti bahwa anak petani dari sebuah desa kecil pun memiliki kesempatan yang sama untuk mengabdi kepada negara.
“Siapa pun punya hak untuk maju. Bukan hanya menjadi anggota DPR atau Jaksa Agung, tetapi bahkan menjadi presiden sekalipun,” katanya.
Ucapan itu bukan sekadar motivasi. Tapi lahir dari pengalaman hidup yang ia jalani sendiri. Di hadapan makam kedua orang tua, semua kenangan kembali hadir. Tentang rumah yang sederhana dan telur dadar yang dibagi sepuluh. Dan juga kenangan mencari rumput usai pulang sekolah. Dan yang utama doa-doa seorang ibu dan ayah yang mengajarkan kehidupan lewat teladan daripada kata-kata.
Pagi itu, ziarah bukan hanya menjadi ritual mendoakan yang telah tiada. Tapi menjadi perjalanan pulang untuk mengingat bahwa setinggi apa pun seseorang melangkah, selalu ada akar yang membuatnya tetap membumi. Sebab perjalanan besar tidak dimulai dari rumah yang megah. Tapi lahir dari keluarga sederhana yang tak pernah berhenti mengajarkan arti kerja keras, kebersamaan, kejujuran dan keikhlasan. (Munadi)










































































































Discussion about this post