MAJALENGKA, (FC).– Di balik impian suci menunaikan ibadah haji, tersimpan ancaman serius bagi mereka yang tergiur jalur pintas, menyongsong penyelenggaraan haji 2026, Pemerintah Arab Saudi dikabarkan akan menerapkan pengamanan superketat hingga delapan lapis. Di tengah situasi itu, peringatan keras datang dari parlemen Indonesia.
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Maman Imanul Haq, mengingatkan masyarakat agar tidak mempertaruhkan keselamatan jiwa dengan menggunakan visa haji ilegal atau non-resmi.
Menurut Maman, ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang harus ditempuh dengan niat lurus dan cara yang benar. Ia menegaskan, jalur ilegal justru membuka pintu risiko besar, baik secara hukum maupun keselamatan.
“Berangkat haji itu ibadah, jangan sampai niat yang suci justru berujung petaka karena menempuh jalur yang melanggar aturan,” ujar Maman Imanulhaq, Minggu (1/2/2026).
Legislator yang akrab disapa Kiai Maman ini menjelaskan, jemaah yang menggunakan visa non-haji dipastikan tidak tercatat dalam sistem resmi Kerajaan Arab Saudi.
Konsekuensinya, mereka tidak mendapatkan layanan kesehatan, perlindungan hukum, hingga fasilitas dasar selama berada di Tanah Suci. Situasi tersebut semakin berbahaya seiring rencana Saudi memperketat pemeriksaan dokumen di Madinah dan Mekkah.
“Tanpa visa haji resmi, jemaah berisiko gagal mengikuti puncak ibadah, mengalami deportasi, dikenai denda besar, bahkan ancaman pidana,” ucap politisi asal Kabupaten Majalengka ini.
Kiai Maman mengingatkan kembali tragedi tahun 2025, ketika seorang warga Pamekasan ditemukan meninggal dunia di kawasan gurun Tan’im akibat menggunakan visa ilegal. Peristiwa itu menjadi cermin pahit dari lemahnya perlindungan bagi jemaah non-prosedural saat menghadapi kondisi darurat.
“Ketika tidak terdata, pertolongan medis sulit diberikan. Nyawa bisa melayang tanpa perlindungan negara,” tegasnya.
PKB mendorong pemerintah untuk memperkuat edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya terkait bahaya tawaran haji tanpa antre yang kerap diselimuti janji manis oknum tidak bertanggung jawab.
Ia menegaskan, keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, menunggu dengan sabar melalui jalur resmi jauh lebih mulia dibanding mengambil risiko besar demi keberangkatan cepat.
“Jangan tukar keselamatan dan nyawa dengan janji instan. Haji adalah ibadah suci, bukan ajang spekulasi,” pungkas Kiai Maman. (Munadi)









































































































Discussion about this post