MAJALENGKA, (FC).- Komunitas sosial Bagong Mogok terus berupaya menghidupkan kembali nilai luhur budaya Sunda, Sabilulungan, yang dinilai mulai meredup di tengah masyarakat modern.
Sabilulungan merupakan filosofi kebersamaan, seiya-sekata, dan gotong royong yang berakar pada prinsip silih asah, silih asih, silih asuh, dan silih wawangi.
Komitmen tersebut terungkap dalam pelantikan dan pengukuhan Korps Daerah (Korda) Bagong Mogok Majalengka yang dirangkaikan dengan peringatan hari jadi ke-1, di Aula Kantor Pemerintah Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Sabtu (31/1) kemarin. Kegiatan ini turut dimeriahkan dengan atraksi seni budaya Singa Depok.
Ketua Umum Bagong Mogok Korda Majalengka, Lifda Sugilar, menegaskan bahwa setiap anggota Bagong Mogok harus mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, semangat berbuat baik harus diwujudkan dalam tindakan konkret, terutama dalam membantu masyarakat yang berada dalam kondisi sulit.
“Anggota Bagong Mogok harus satekah polah ngabela nu susah, berusaha sekuat tenaga membela yang membutuhkan. Kita harus lebih baik dari hari kemarin,” ujar Lifda dalam sambutannya.
Perwira menengah Polres Majalengka ini menambahkan, Bagong Mogok harus selalu hadir di tengah masyarakat serta bersinergi dengan pemerintah desa dan kecamatan. Kolaborasi dinilai penting agar setiap kegiatan sosial tepat sasaran dan saling meringankan.
“Kita tidak boleh berjalan sendiri. Bagong Mogok harus bersama masyarakat dan pemerintah. Jika ada warga atau anggota yang membutuhkan bantuan, jangan diabaikan,” tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan Founder Bagong Mogok, Brigjen Pol (Purn) H. Asep Guntur Rahayu, Ia menegaskan bahwa Bagong Mogok merupakan komunitas sosial murni yang tidak berorientasi pada keuntungan finansial, melainkan bergerak atas dasar kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Menurut Asep, yang juga menjabat Direktur Penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), budaya Sabilulungan pada masa lalu tumbuh kuat melalui kebiasaan saling membantu dalam berbagai aspek kehidupan.
Namun, seiring perubahan zaman dan menguatnya pola hidup individualistis, nilai tersebut mulai terkikis.
“Manusia itu makhluk sosial. Tidak bisa hidup sendiri tanpa keterlibatan orang lain. Bagong Mogok hadir untuk menghidupkan kembali semangat rereongan, kebersamaan dalam membantu sesama,” katanya.
Dia menambahkan, keterbatasan anggaran negara, baik melalui APBN maupun APBD, membuat pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menuntaskan persoalan sosial. Karena itu, partisipasi dan kepedulian masyarakat menjadi kunci.
“Kalau sendirian itu berat, tapi kalau bersama-sama akan ringan. Kita punya tanggung jawab sosial dan tanggung jawab agama. Silih asih, silih asuh, silih mikanyaah, itulah misi Bagong Mogok,” ujarnya.
Pihaknya juga menekankan pentingnya konsistensi dalam berbuat kebaikan. Menurutnya, semangat berbuat baik tidak boleh kalah dari mereka yang melakukan kejahatan dengan perencanaan matang.
“Masa orang yang berbuat jahat bisa begitu serius merencanakan, sementara kita yang berbuat baik ragu dan setengah-setengah. Itu ironis,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhamad Ramadhan, memberikan apresiasi atas kiprah Komunitas Bagong Mogok yang dinilainya telah banyak membantu pemerintah daerah dalam berbagai aktivitas sosial.
Dena mengaku menyaksikan langsung kontribusi Bagong Mogok, mulai dari pembangunan masjid, rehabilitasi madrasah, perbaikan rumah tidak layak huni, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
“Kehadiran Bagong Mogok sangat membantu pemerintah daerah dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan Majalengka. Kolaborasi dan kerja sama seperti ini sangat penting,” kata Dena.
Wabup berharap Bagong Mogok terus tumbuh sebagai mitra strategis pemerintah dan tetap konsisten berada di tengah masyarakat.
“Saya mendoakan Bagong Mogok semakin sukses dan terus bersama rakyat,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Dena juga memaparkan capaian pembangunan daerah selama satu tahun terakhir, di antaranya penurunan angka pengangguran serta peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Majalengka. (Munadi)











































































































Discussion about this post