INDRAMAYU, (FC).- Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Indramayu, mengakibatkan sejumlah wilayah terendam banjir.
Genangan air tidak hanya melanda kawasan permukiman warga, tetapi juga merendam area persawahan serta ruas jalan raya, sehingga aktivitas masyarakat dan pengguna jalan terganggu.
Berdasarkan pantauan, Minggu (25/1) ketinggian air di beberapa titik di Desa Pekandamgan Kecamatan Indramayu mencapai sekitar 60 sentimeter. Bahkan, air sempat masuk ke dalam rumah warga dengan ketinggian serupa, memaksa sebagian warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Selain merendam permukiman, banjir juga menggenangi jalan raya di sejumlah titik. Akibatnya, arus lalu lintas terganggu karena kendaraan harus melaju perlahan untuk menghindari mogok maupun kecelakaan.
Dampak banjir tidak berhenti di kawasan permukiman. Genangan air juga meluas hingga ke sektor pertanian.
Pantauan di Desa Panyindangan Kulon, Blok Pecuk, Kecamatan Sindang, menunjukkan lahan persawahan milik warga terendam air. Kondisi ini berpotensi merusak tanaman padi dan menimbulkan kerugian bagi para petani.
Sementara itu, intensitas hujan yang tinggi turut memicu kerusakan bangunan. Di Desa Cidempet, Kecamatan Arahan, dua unit rumah warga dilaporkan roboh akibat tergerus air serta kondisi tanah yang labil.
Salah seorang warga Desa Pekandangan Jaya, Rafi Ahmad (60), mengatakan banjir terjadi akibat sistem drainase yang dinilai tidak mampu menampung debit air hujan yang tinggi. Menurutnya, hujan deras yang turun terus-menerus semakin memperparah kondisi lingkungan.
“Dari kemarin hujan sudah dua hari sampai sekarang, jadi akibatnya banjir seperti ini karena selokannya tidak bisa nampung. Memang sebelumnya selokan di sini pernah dikeruk, cuma oleh masyarakat kembali ditutup karena digunakan untuk usaha. Mungkin karena pemerintah juga kurang tegas,” ujar Rafi.
Ia menuturkan, meski banjir mulai surut, ketinggian air di beberapa titik masih cukup tinggi dan menyulitkan aktivitas warga.
“Air memang sudah surut karena hari ini tidak hujan, tetapi masih cukup tinggi. Tadi malam ketinggiannya jauh lebih parah, sekarang teras rumah baru mulai terlihat,” tuturnya.
Rafi mengungkapkan, banjir sebenarnya hampir terjadi setiap tahun. Namun, banjir kali ini dinilainya sebagai yang terparah karena air masuk hingga ke dalam rumah.
“Biasanya banjir tidak separah ini, tidak sampai masuk rumah. Tapi karena hujannya besar dua hari tidak berhenti, akhirnya air sampai setinggi satu lutut di dalam rumah,” ungkapnya.
Akibat kondisi tersebut, Rafi bersama keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat demi keselamatan.
“Kami tidurnya mengungsi cari tempat yang tinggi, ke rumah saudara, karena rumah saya sudah tidak bisa ditempati,” terangnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan pembenahan drainase dan saluran pembuangan air agar banjir serupa tidak kembali terulang.
“Kami berharap selokan dan drainase pembuangan air bisa dibenahi supaya aliran air lancar dan banjir tidak terjadi lagi,” pungkas Rafi.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu belum dapat dimintai keterangan.
Petugas masih melakukan pendataan dampak banjir di sejumlah wilayah sekaligus melakukan upaya penanganan di lokasi terdampak. (Agus Sugianto)











































































































Discussion about this post