KUNINGAN, (FC).- Praktik pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus di SLB Kadugede dinilai menuntut pendekatan yang lebih personal dan humanis dibandingkan sekolah reguler.
Hal tersebut diungkapkan mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Islam Al Ihya (UNISA) Kuningan, Ela Susilawati, didampingi Dini Putri Damayanti, Latifah, Piska Trisila Dewi, dan Syndi Novita, berdasarkan hasil observasi lapangan.
Dari hasil pengamatan tersebut terungkap bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik, hambatan, serta potensi yang berbeda-beda.
Kondisi ini membuat proses pembelajaran tidak dapat diseragamkan dan menuntut guru untuk menyesuaikan metode serta strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Wali kelas 1 (Fase A) SLB Kadugede, Lisna Olimpia Alfaini, menjelaskan bahwa peran guru di sekolah luar biasa tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang secara intens memahami kondisi peserta didik.
“Di SLB, guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi pendamping yang memahami emosi, perilaku, dan kebutuhan belajar setiap anak,” ujar Olim, Rabu (21/1).
Menurutnya, proses pembelajaran di SLB Kadugede dilaksanakan melalui asesmen berkelanjutan untuk memantau perkembangan siswa.
Selain itu, guru memanfaatkan media konkret dan visual serta menerapkan strategi pembelajaran yang fleksibel, menyesuaikan dengan jenis hambatan yang dialami peserta didik.
Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam mendorong perkembangan anak secara bertahap, baik dari aspek akademik, sosial, maupun kemandirian.
Meski demikian, berbagai tantangan masih kerap dihadapi dalam proses belajar mengajar, seperti perilaku tantrum dan perbedaan kecepatan belajar antar siswa.
“Dengan segala keterbatasan yang ada, kami tetap berupaya menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan bermakna bagi setiap anak,” tambahnya.
Ela Susilawati menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak diukur dari kesamaan hasil belajar, melainkan dari setiap kemajuan yang dicapai oleh peserta didik.
“Pendidikan yang menghargai perbedaan dan menyesuaikan kebutuhan individu menjadi kunci utama dalam membantu anak berkebutuhan khusus tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya,” ujarnya.
Melalui pengalaman lapangan ini, para mahasiswi PGSD UNISA Kuningan berharap dapat membawa perspektif pendidikan yang lebih inklusif dan humanis dalam praktik keguruan mereka di masa mendatang. (Angga)










































































































Discussion about this post