KAB. CIREBON, (FC).- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Enny Suhaeni mengaku Kabupaten Cirebon masuk zona merah menjadi beban tersendiri, karena sebelumnya Pemkab Cirebon sempat membuat level Kabupaten Cirebon berada di level Biru, Kuning kemudian Orange sekarang Merah.
Dengan level Kabupaten Cirebon sebagai zona merah itu, kata Enny, pihaknya meminta kepada masyarakat agar lebih ketat menerapkan protokol kesehatan. Terutama memakai masker saat beraktivitas diluar rumah. Karena, dengan memakai masker akan bisa mencegah penularan melalui kontak langsung.
“Saat ini banyak pasien positif yang terpapar tapi tanpa gejala. Teman-teman media jangan lelah untuk melakukan sosialisi ini. Dan siapapun harus ikut berperan melakukan sosialisasi degan mengingatkan tetangga, saudara untuk memakai masker saat keluar rumah,” kata Enny, Selasa (29/9).
Ia menjelaskan, status zona merah di Kabupaten Cirebon ini memang mengharuskan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
“Karena kita tidak bisa melarang lagi, terlebih Kabupaten Cirebon juga banyak obyek wisata. Otomatis pergerakan orang juga akan banyak, baik dari maupun keluar Kabupaten Cirebon. Tentunya ini juga berdampak pada hasil angka yang positif (Covid-19),” papar Enny.
Lebih jauh Enny menjelaskan, penilaian zona setiap daerah di Jawa Barat rutin dilakukan oleh Pemerintah Provinsi setiap minggu. Penilaian Kabupaten Cirebon sebagai zona merah, lanjut Enny, mungkin karena melihat tingginya pasien positif Covid-19 akibat testing dan tracing yang juga tak kalah tingginya.
“Hanya memang input data hasil testing tracing kita belum semuanya terinput oleh provinsi,” ucapnya.
Sehingga, kata dia, Pemerintah Provinsi melihat hasil testing tracing yang dilakukan Pemkab Cirebon belum tinggi karena input yang masih rendah ke Pemerintah Provinsi.
“Mungkin kelemahannya karena signal. Kita kan ada 60 puskesmas, dimana harus menginput sendiri hasil testing tracingnya ke provinsi. Nah, mungkin mereka yang sudah input, pas mau upload signalnya jelek,” jelas Enny.
Selain itu, faktor lainnya ialah karena banyaknya testing dan tracing yang dilakukan sehingga membuat tenaga lapangan terkendala waktu untuk meng-input. Karena, mereka juga punya tugas untuk mengerjakan program lainnya.
“Intinya, hasil testing dan tracing kita yang seharusnya sudah 25 ribu lebih itu, belum terinput semuanya oleh provinsi. Sementara, hasil positif (Covid-19) nya kita update setiap hari. Itu mungkin salah satu penyebab zona merahnya. Karena kalau melihat kesembuhan juga kita sudah 56,6 persen,” terangnya.
Sementara itu, kecamatan di Kabupaten Cirebon terbagi menempati di beberapa posisi, mulai dari hijau, biru, kuning dan merah.
“Diantaranya 7 kecamatan berada di zona hijau, 5 di zona biru, 4 di zona kuning dan sisanya 24 kecamatan masuk di zona merah, angka tersebut berdasarkan laporan yang masuk per tanggal 14-27 September 2020,” tukasnya. (Ghofar)











































































































Discussion about this post