KAB.CIREBON, (FC).- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Cirebon menyoroti peringatan Hari Jadi ke-544 Kabupaten Cirebon yang mengusung tema “Teteg Lan Tutug”. Tema tersebut dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam kondisi pembangunan di daerah.
Ketua DPC GMNI Cirebon, Dika Agung Wahyudi, mengatakan hingga saat ini pemerintah daerah masih dihadapkan pada berbagai persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
Menurutnya, peringatan hari jadi kerap hanya bersifat seremonial tanpa diiringi evaluasi menyeluruh dan langkah konkret.
“Infrastruktur masih menjadi persoalan. Jalan rusak masih ditemukan di banyak titik dan pembangunan belum merata. Seharusnya ada progres signifikan jika mengusung semangat ‘tutug’, bukan justru stagnan,” ujar Dika, Selasa (7/4).
Selain infrastruktur, GMNI juga menyoroti kualitas pelayanan publik yang dinilai belum optimal. Dika menyebut birokrasi masih lamban, kurang responsif, serta minim inovasi.
“Pelayanan masyarakat masih jauh dari optimal. Akses terhadap layanan dasar masih dirasakan sulit, ini menunjukkan reformasi birokrasi belum berjalan maksimal,” katanya.
Di sektor pendidikan, GMNI menilai masih terjadi ketimpangan fasilitas antarwilayah serta kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik.
“Jika pendidikan masih timpang, maka sulit berbicara tentang masa depan daerah. Ini persoalan serius yang harus segera ditangani,” ujarnya.
Dika juga menyinggung aspek transparansi dan akuntabilitas pemerintahan yang dinilai masih minim, terutama dalam pengelolaan anggaran dan pengambilan kebijakan publik.
“Transparansi adalah kewajiban. Jika pemerintah belum terbuka, maka wajar kepercayaan publik menurun,” katanya.
GMNI menegaskan tema “Teteg Lan Tutug” seharusnya menjadi komitmen nyata dalam menuntaskan berbagai persoalan, bukan sekadar slogan.
Pihaknya pun mendesak Pemerintah Kabupaten Cirebon untuk melakukan evaluasi menyeluruh serta mengambil langkah tegas dalam meningkatkan kinerja.
“Peringatan hari jadi harus menjadi momentum perbaikan. Kabupaten Cirebon membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar retorika,” ujar Dika. (Ghofar)













































































































Discussion about this post