KAB. CIREBON, (FC).- Selain rumah sakit yang dijadikan sebagai tempat isolasi pasien positif Covid-19. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon masih terus berupaya mencari tempat penginapan salah satunya adalah hotel untuk dijadikan tempat isolasi mandiri pasien positif Covid-19 yang tanpa gejala.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Enny Suhaeni mengatakan sejauh ini pihaknya masih mencari hotel yang bersedia dijadikan tempat isolasi mandiri bagi pasien positif Covid-19 asal Kabupaten Cirebon yang kategori orang tanpa gejala (OTG).
“Kita masih mencari. Mudah-mudahan mendapatkan solusinya,” kata Enny Suhaeni kepada FC melalui sambungan telepon selulernya, Selasa (29/9).
Enny menjelaskan, kebutuhan hotel sendiri bukan hanya untuk semua orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan tanpa gejala, hanya saja tempat isolasi mandiri yang ia fokuskan disatu tempat, seperti pasien yang virolognya tinggi, kemudian yang rumahnya terlalu padat penduduk kemudian berlaku bagi orang yang tidak disiplin.
“Jadi tidak semua yang positif harus isolasi disatu tempat. Yang kita butuhkan tidak banyak kamar. Kalau dia bisa isolasi mandiri di rumah ya di rumah saja nanti kan satgasnya itu kan sampai RT RW. Nah mereka (RT dan RW) itu yang harus aktif,” jelasnya.
Enny mengaku pihaknya masih mencari hotel yang mau disewakan untuk tempat isolasi mandiri, cuma hingga saat ini belum mendapatkan hotelnya.
“Kalau kita inginnya ya ada satu tempat atau hotel untuk isolasi masyarakat yang berpotensi menularkan ke yang lain. Sekarang kan sudah AKB, jadi hotel juga sudah penuh lagi, ramai lagi, mungkin itu yang jadi keberatannya,” papar Enny.
Karena, masih dikatakan Enny, Kabupaten Cirebon termasuk daerah wisata, kuliner sehingga akhirnya hunian hotel juga mulai meningkat lagi. Mungkin, kata dia, kalau awal awal pandemi banyak hotel sepi dan bayak yang tutup mungkin kalau ia sewa pasti hotel semua mau.
“Perlakuan hotel nantinya setiap hari pasti dilakukan disinfektan kalau ada pasien yang sembuh. Kita tidak tinggal diam,” tukasnya.
Terpisah, Kabid Pariwisata pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon, Nana Mulyana mengatakan, dua pekan lalu memang pihaknya diminta untuk menyiapkan minimal tiga hotel untuk cadangan untuk pasien positif Covid-19 yang OTG. Selanjutnya, ia melakukan penjajakan ke hotel-hotel kecuali hotel kelas melati rata-rata mereka tidak sanggup atau tidak siap dijadikan tempat isolasi mandiri.
Karena, lanjut Nana, prinsip manejemen hotel kalau ketika sudah digunakan menjadi tempat isolasi mandiri pasien positif Covid-19, hotel itu kedepannya tidak akan laku.
“Kata manajemen hotel bukan tidak mau membantu pemerintah, tetapi jaminannya apa dari pemerintah. Apakah pemerintah mau bertanggung jawab mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap hotel itu,” kata Nana.
Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cirebon, Ida Kartika mengungkapkan, sampai dengan saat ini pihak pemerintah belum berbicara dengannya selaku lembaga yang menaungi perhotelan. Karena meskipun selaku ketua namun tidak dapat mengambil keputusan.
“Kami belum mendapatkan edaran dari pemerintah. Kami bicarakan dulu ke semuanya. Keputusan semuanya juga tergantung dari pada hotel-hotel itu sendiri apakah mereka mau atau tidaknya,” kata Ida Kartika melalui sambungan telepon selulernya.
Ida membandingkan Kota Cirebon sudah komunikasi dengan PHRI Kota Cirebon sehingga kabarnya sudah ada yang mau hotelnya dijadikan sebagai tempat isolasi, sedangkan Kabupaten Cirebon belum ada komunikasi sama sekali.
“Kalau sudah ada komunikasi, pasti kami sudah tahu hotel mana yang bersedia dan mana yang tidak bersedia. Tapi itu belum ada komunikasi sama sekali,” ungkapnya.
Saat disinggung ketika hotelnya dipilih sebagai salah satu tempat isolasi, Ida mengaku, pihaknya tidak dapat memutuskan saat ini karena pihaknya belum mengetahui konsekwensi yang diberikan oleh pemerintah Kabupaten Cirebon.
“Komitmennya apa kita belum tahu. Minimalnya ada konsekwensi yang diberikan kepada karyawan kami. Kemudian tata cara isolasi itu seperti apa? Minimalnya ada gambaran atau sosialiasi dulu,” tukasnya. (Ghofar)















































































































Discussion about this post