MAJALENGKA, (FC).- Secara historis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan organisasi guru yang paling senior dan paling matang di negeri ini. Bahkan, organisasi tersebut masih eksis sampai saat ini.
Untuk itu, dalam kepengurusannya, PGRI harus konsisten dan tidak main-main karena itu menyangkut dengan nasib para kaum guru.
Demikian disampaikan Bupati Majalengka, H. Karna Sobahi, saat dirinya membuka Konferensi Kabupaten (Konkab) PGRI Majalengka, tahun 2020, yang berlangsung di Auditorium Universitas Majalengka (Unma), Selasa (22/9).
“Jika dalam mengurus PGRI dilakukan secara main-main, maka wibawa PGRI akan jatuh, sehingga tidak lagi mendapat respek dari masyarakat, bahkan anggotanya itu sendiri,” katanya.
Menurut dia, Konperda PGRI kali ini merupakan Konferda instropektif dan kolektif terhadap keadaan PGRI yang harus dibenahi secara maksimal dan menyeluruh. Ajang inipun sebagai revitalisasi untuk sebuah reformasi perbaikan di semua lini, agar PGRI memiliki wibawa sebagai organisasi guru.
Karena secara kuantitas dan kualitas, sambung dia, PGRI dipandang sebagai organisasi yang paling teruji eksistensinya dalam membangun profesionalisme guru, dan juga PGRI ini merupakan organisasi guru terbesar di Indonesia. Oleh karenanya, dalam pengelolaannya harus inovatif dan juga kreatif.
“Artinya, mengurus guru itu tida bisa apa adanya, akan tetapi kepengurusan yang akan dibentuk nantinya pada Konferda PGRI kali ini didasarkan pada kolektifitas serta harus mampu bermitra dengan pemerintah, agar PGRI ke-depannya mampu memberikan pelayanan yang baik bagi anggotanya, sehingga para anggotanya merasa terlayani dengan baik,” tukasnya. (F11).
Bupati Majalengka, H. Karna Sobahi tengah melangsungkan sambutan dalam acara Konkab PGRI Majalengka, tahun 2020 yang berlangsung di Auditorium Unma, kemarin. (Ibin)
















































































































Discussion about this post