KOTA CIREBON, (FC).- Kota Cirebon sebenarnya memiliki Tim Sepakbola Persatuan Sepakbola Indonesia Tjirebon (PSIT). Dekade 90’an, PSIT kala itu menjadi tim yang disegani, bahkan hanya kalah dari Persib Bandung saja.
Saat ini aktivitas PSIT dalam menggelar kompetisi lokal tidak ada gaungnya. Hal ini berimbas, tidak adanya prestasi yang diraih, baik level wilayah, provinsi apalagi nasional.
Hal ini tentunya menjadi keprihatinan tersendiri bagi tokoh sepakbola Kota Cirebon, Hasanudin. Dia tak segan-segan melontarkan kritik terhadap Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Cirebon.
Dikatakannya, Askot PSSI Kota Cirebon harus dilakukan perombakan menyeluruh. Diganti dengan pengurus yang profesional, peduli, perhatian dan rela berkorban untuk persepakbolaan di Kota Cirebon. Makanya, dia mencari tokoh yang memiliki kriteria tersebut guna memimpin PSSI Kota Cirebon.
“Askot PSSI Kota Cirebon maupun PSIT tidak ada aktivitas sebgai suatu organisasi olahraga sepakbola. Tidak aneh bila tidak ada prstasi yang diraih. Jadi kalau tidak mampu, ya serahkan kepada yang lain untuk mengurusnya. Karena infonya November ini masa kepengurusannya habis,” jelas Hasanudin, Selasa (1/11).
Dibeberkannya, anggota PSIT menurut data ada 11 klub, yakni, LDII, Bina Muda Pancuran, Porlak, Bhayangkara, AFK Kota Cirebon, Klub Sunyaragi, Wanacala, Arhanudse, Persada, STIKes Mahardika, dan yang di Wilayah Api-api.
“Ini informasi dari Asprov PSSI Jawa Barat, bahwa ada 11 klub ini, mereka juga memiliki suara dan hak pilih dalam muskot,” kata pesepakbola era 80’an itu.
Ia menilai, dengan faktor kesejarahan sepakbola Kota Cirebon dan antusiasme masyarakat yang tinggi, mestinya PSIT saat ini sudah bisa berkompetsi di Liga 2 Indonesia.
Menurutnya, sepakbola Kota Cirebon dalam keadaan sangat minim prestasi. Sehingga ia meminta para elit PSSI Kota Cirebon untuk sadar diri dengan tidak kembali menjabat di periode berikutnya.
“Karena prestasi tidak ada, biar orang lain saja yang mengurus dan bisa menghasilkan prestasi. Banyak yang ingin jadi ketua PSSI Kota Cirebon, tapi mereka tidak tahu mekanismenya seperti apa,” tuturnya.
Ketua SSB Bintang Rajawali itu menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap sepakbola tak pernah surut. Setidaknya terlihat dari banyaknya anak-anak yang ikut berlatih di SSB Bintang Rajawali.
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Mereka berkeinginan dunia sepak bola maju. Tapi mentok di top manajemen PSSI Kota Cirebon,” katanya.
Ia menyebutkan, kegagalan PSSI Kota Cirebon di antaranya, tidak menjalankan agenda pada kalender PSSI, seperti kompetisi lokal berjenjang.
Hasanudin lantas menyebutkan, setidaknya ada lima indikator utama dalam tata kelola sepakbola. Kelimanya yakni pengelolaan pemain, perwasitan, kepelatihan, inspektur pertandingan, dan stadion.
“Ini syarat untuk menjalankan roda kompetisi. Wajib tiap kota menjalankan syarat ini. Tapi faktanya, PSIT sebagai klub bola Kota Cirebon prestasinya sangat buruk,” tuturnya.
Kegagalan PSIT menorehkan prestasi, sambung Hasanudin, salah satunya karena tidak adanya roda kompetisi antarklub lokal. Sehingga untuk mengisi komposisi pemain PSIT, tanpa memperhatikan kaderisasi pemain lokal. (Agus)














































































































Discussion about this post