MAJALENGKA, (FC).– Biasanya, antrean untuk membeli bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi itu akan terjadi sebelum diberlakukannya kenaikan harga BBM, termasuk di Kabupaten Majalengka.
Namun fakta yang menarik, antrean pun saat ini masih terjadi di Majalengka, meski harga BBM sudah resmi naik.
Antrean yang dapat disaksikan langsung itu, terutama BBM jenis Pertalite, nyatanya nyaris ada setiap waktu. Baik malam, siang, pagi ataupun sore, selalu terlihat antrean mengular di setiap SPBU yang ada di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Kondisi dan situasi seperti di Majalengka ini dirasa menjengkelkan, apalagi lebih banyak waktu terbuang percuma karena menunggu antrean untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite.
Saking kesalnya, bahkan ada pengendara motor di Majalengka yang sudah mengantre di pertengahan menuju pengisian, dia malah pergi menuju stand pengisian Pertamax. Namun, kebanyakan pemotor lebih rela antre untuk bisa mengisi Pertalite.
Dalam obrolan bersama sejumlah pengendara motor yang ditemui ketika antre, warga Majalengka ternyata lebih suka mengantre karena perhitungan kalkulasi matematika.
Kini, harga BBM bersubsidi jenis Pertalite ada di angka Rp10 ribu. Sementara jika membeli Pertamax Rp14.500 untuk satu liter.
“Perbandingannya itu cukup jauh, bedanya bukan seribu dua ribu. Saya kini biasa beli full jenis Pertalite, itu bisa di angka Rp30 sampai 35 ribu, motor saya masih motor jadul,” ujar Willy warga Cigasong, Kamis (15/9).
Pengendara motor lain, Rizqi mengatakan hal yang sama. Ia sendiri lebih baik mengantre untuk bisa mengisi tangki motornya dengan BBM bersubidi jenis Pertalite.
Ia kini tidak lagi mengisi di Pom mini, karena di toko bensin kecil itu hanya menyediakan Pertamax yang harganya juga jauh lebih mahal. Triknya, ia mengisi tangki motor dua hari atau tiga hari sekali.
“Sekali ngisi langsung full. Kalau gak begitu, habis waktu saya buat ngisi BBM ini. Waktunya itu selalu ngantre, saya pernah mencoba pagi hari tetap ngantre, siang hari masih ngantre. Malam hari saya coba ngantre tetap panjang antrean,” ujarnya.
Feri, seorang pedagang keliling yang menggunakan motor untuk berjualan, mengatakan, saat ini aktivitas barunya yang mengesalkan yakni mengantre di SPBU untuk membeli BBM bersubsidi.
Ia mengaku rela antre malam hari, supaya besok pagi leluasa jualan tahu dan tempe. Ia mengaku repot jika mengisi BBM pada pagi hari, semisal jam 06.00 WIB karena antrean mengisi Pertalite sudah banyak dan mengular.
“Pelanggan saya bisa kabur kalau saya kesiangan. Makanya, saya sempatkan waktu malam hari, itu butuh waktu setengah jam lebih. Awal-awal sesudah ketok palu kenaikan harga BBM, bahkan saya ngantre satu jam lebih,” ungkapnya.
Fakta menarik lain, meski wilayah Majalengka tidak mewajibkan untuk mengunduh aplikasi mypertamina, namun, petugas pengisian BBM bersubsidi jenis Pertalite, tetap mencatat nomor-nomor kendaraan polisi (nopol) milik warga.
Petugas yang ada di stand pengisian BBM bersubsidi jenis Pertalite kini ada dua petugas. Yang satu menyebutkan nopol kendaraan motor yang akan diisi, petugas lainnya menginput data nomor nomor kendaraan itu ke ponsel yang memang tersedia di dekat stan pengisian.
SPBU lain ada juga yang masih manual menggunakan catatan kertas dan pulpen. Si petugas SPBU mencatat di kertas buku khusus, isinya sudah pasti ribuan nopol kendaraan bermotor. Itulah yang diyakini warga membuat lama antrean.
“Saya hitung setiap kali ngantre, satu motor menghabiskan waktu lebih dari satu menit. Padahal dulu, kurang dari satu menit sudah beres, langsung berganti ke motor lainnya yang antre,” ujar warga Majalengka lainnya, Wiwin.
Sementara pemiik Pom Mini di Majalengka, Ujang mengatakan, sejak Pertalite naik harganya menjadi Rp10 ribu, ditambah larangan membeli Pertalite memakai jerigen, maka dengan terpaksa untuk berjualan bensin di Pom Mini, dirinya harus membeli Pertamax.
Hanya saja, harga Pertamax yang saat ini sudah lebih dari Rp14 ribu membuat konsumennya entah menghilang kemana. Menurutnya, jarang sekali warga beli ke Pom mini, karena perbandingan harganya dengan Pertalite juga sangat jauh.
“Sepi sekarang mah Pom Mini juga. Kalau dulu, saya belanja ke SPBU itu hampir setiap hari. Sekarang mah, empat hari baru belanja lagi,” ungkap pemilik Pom Mini di Kabupaten Majalengka.
Akibat ada pencatatan nopol kendaraan dalam setiap pengisian BBM bersubsidi, motor-motor bodong yang tak ada nopol kendaraannya, kini tidak terlihat lagi di setiap antrean SPBU.
“Susah sekarang mah kang, pernah mau ngisi awal-awal kenaikan harga BBM, itu ditanya soal nopol, juga ada pak polisi berjaga, jadi malu,” ungkap warga Majalengka yang minta namanya tak disebutkan. (Munadi)












































































































Discussion about this post