Salah satu hal yang diperlukan dalam perkembangan dunia pendidikan adalah dasar untuk ingin tahu akan segala hal. Rasa ingin tahu inilah yang menjadi satu pemicu agar dunia pendidikan dapat senantiasa berkembang.
Rasa ingin tahu memicu untuk mengembangkan berbagai percobaan dan ide yang akan senantiasa berinovasi. Dan untuk mengekspresikan rasa ingin tahu tersebut, maka diperlukan kegiatan yang paling mendasar dalam dunia ilmu pengetahuan, yaitu bertanya.
Bertanya adalah landasan dasar mengapa peradaban manusia dapat maju saat ini. Dengan mempertanyakan berbagai hal memicu berbagai cara dalam menemukan solusi dalam permasalahan hidup.
Pendidikan juga merupakan hasil dari pemikiran dari pertanyaan apakah memiliki ilmu pengetahuan merupakan hak dasar setiap manusia. Namun, permasalahan dalam dunia pendidikan saat ini adalah minat untuk bertanya yang sangat kurang.Ketidakmauan pelajar untuk bertanya saat pelajaran di berikan dipicu oleh berbagai hal.
Beberapa hal tersebut seperti rasa malu, menganggap pelajaran tidak penting dan tidak mampu bertanya karena dasar pelajaranya sendiri tidak diketahui. Selain itu, dalam beberapa budaya, bertanya merupakan tanda ketidaksopanan terhadap yang lebih tua, dan masih banyak lagi masalah-masalah lainnya. Kesulitan bertanya sendiri pada setiap pelajar bukan hanya menjadi masalah di Indonesia.
Di Amerika Serikat, perguruan tinggi masih cukup sulit untuk mengembangkan daya kritis para pelajarnya. Selain itu, India memiliki permasalahan yang dimana ketika seseorang bertanya maka akan dinilai bodoh. Padahal, kedua negara ini dapat dikatakan sangat maju terhadap perkembangan penelitian dan riset terbaru dalam dunia pendidikan.
Masalah ketidakmauan untuk bertanya bertambah besar akibat adanya pandemi Covid -19. Pandemi mengakibatkan pelajar melakukan pertemuan secara daring. Pertemuan secara daring dapat dikatakan membosankan dan membuat penurunan minat belajar. Pasalnya, pertemuan daring memicu suasana yang terlalu nyaman sehingga pelajar tidak memiliki kedisplinan.
Pelajar hanya perlu mematikan kamera saat pelajaran berlangsung dan ketika ujian, internet tersedia untuk memberikan jawaban instan tanpa berpikir. Sistem pembelajaran secara daring tidak hanya menjadi masalah untuk pelajar. Hal ini juga mempersulit tenaga pendidik yang berusaha maksimal dalam membuat pemahaman kepada pelajarnya.
Pendidik tak mampu mengetahui secara psikologis apakah siswanya benar-benar paham karena tak dapat melihat mereka secara langsung. Untuk menilai kejujuran dan kedisplinan sangat sulit karena pendidik tidak mengetahui apakah pelajar mampu mengerjakan tugas atau ujian karena tahu atau karena hanya ingin nilai yang tinggi.
Bila dasar dalam suatu sistem tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka akan terjadi permasalahan berkelanjutan. Hal ini pun terjadi pada sistem pendidikan.Bila ketidakmauan mempertanyakan dalam suatu pelajaran terus meningkat, maka hal ini akan semakin menurunkan daya kritis pelajar.
Hal ini telah terbukti dengan International Education Database, dimana Indonesia berada di posisi 62 dari 63 negara. Perlu adanya pembaharuan sistem pendidikan di masa pandemi saat ini dengan memanfaatkan beberapa pihak.
Pertama adalah keluarga. Lingkungan keluarga yang baik adalah membiarkan anak-anaknya untuk bertanya dan memicu inisiatif untuk bertanya terutama dalam pelajaran. Mungkin tidak setiap keluarga memiliki pendidikan yang tinggi, namun setidaknya keluarga mampu memicu rasa penasaran anaknya dengan memberikan saran kepada siapa dia perlu mengajukan pertanyaannya.
Pihak kedua adalah tenaga pengajar. Pengajar baik dosen ataupun guru, perlu memperhatikan cara mengajarnya agar dapat memicu rasa penasaran yang menarik. Selain itu, guru perlu juga menjelaskan tujuan dari suatu pembelajaran dan manfaatnya dalam kehidupan.
Hal ini dapat memperbaiki konsep berpikir pelajar bahwa pelajaran sekolah itu tidak penting. Digitalisasi teori dan praktek pelajaran perlu dilakukan secara seimbang demi kelancaran pemahaman siswa.
Kedua pihak tersebut hanya merupakan lingkup kecil dalam mengatasi permasalahan tersebut. Semuanya akan kembali pada pelajar sendiri. Bila pemicu untuk bertanya telah diperbaiki, maka seharusnya pelajar mampu memahami setiap pelajaran.
Hal ini juga didukung dengan kurikulum pendidikan, fasilitas belajar dan akses buku pelajaran yang baik. Bertanya adalah hal yang dasar dalam dunia pendidikan. Akan selalu ada permasalahan yang muncul dalam akan bertanya, namun dengan sikap optimis, dunia pendidikan suatu saat akan semakin baik. Dengan selalu mempertanyakan nasib dunia pendidikan ke depannya, akan ada suatu solusi jangka panjang yang baik dan benar.***
Oleh: Achmad Salim
(Ketua Qohuwa Buntet Pesantren)















































































































Discussion about this post