Puncak lebaran baru saja berlalu. Suasananya perlahan mulai redup. Yang tersisa adalah warna- warni aktifitas mudik bagi kebanyakan kita. Mudik ke kampung halaman, telah menjadi bagian dari ritual syahdu dihari raya. Tak mudik, maka tak lengkaplah perayaan. Banyak yang merasa menang meskipun tak ikut berperang. Bahkan yang tak ikut dalam peranglah yang kadang lebih heboh dalam merayakannya.
Balik ke kampung sesungguhnya bukanlah poin yang sebenarnya. Ada nilai dan rasa yang melibatkan kerinduan di dalamnya. Rasa jengah dengan semua kepalsuan dalam kehidupan sehari- hari dunia kerja di kota memupuk kerinduan kita pada orisinalitas di kampung kita.
Bau asap dapur, aroma kotoran ternak yang kandangnya di kolong rumah, suara jangkrik dan serangga malam, kunang- kunang yang bergerombol ataupun capung yang terbang berkoloni di atas sungai kecil yang mengalir di depan rumah. Semuanya membuncahkan rasa rindu.
Banyak yang kecewa sesampai di kampung. Rupanya sekian lama ditinggalkan, kampung telah kesurupan dan latah mengikuti kota. Padahal kota yang mempersolek dirinya dengan kerlap- kerlip lampu yang berwarna- warni sungguh telah menyembunyi kegagalan tatanan kota yang diagungkan oleh kaum desa.
Ekonomi mengcekik rakyat. Kita yang menggantungkan hidup dan bekerja dikota untuk penghasilan yang kita sendiri mahfum takkan mampu mencukupi hidup dengan desakan harga yang semakin melangit. Kita bekerja sebulan hanya untuk gaji yang hanya cukup seminggu.
Kota diramaikan dengan praktik kriminal dan perilaku melabrakhukum yang seolah negara tak berdaya dihadapan pelaku- pelakunya. Hampir disepanjang jalan disemua persimpangan jalan kota ini kita dipertontokan ketakberdayaan negara. Jalan dimacetkan oleh palimbang-limbang (Pak Ogah) yang mengambil alih tugas dari negara mengatur lalu lintas.
Setiap persinggahkan kita akan ditagih oleh tukang parkir liar, rambu- rambu dilanggar, bunyi sirine yang sangat mudah dibunyikan dari kendaraan pengawal meskipun tak jelas apa yang dia kawal bahkan terkadang tak ada yang dikawalnya. Dan masih banyak kepalsuan yang disembunyikan gemerlapnya lampu kota besar, gedung pencakar langit, jalan tol, Mall, restoran gaya eropa dan semua gelagat modernisasi dikota besar.
Pisau Modernisasi
Modernisme memang menjanjikan pengembaraan dalam kebaruan, pertumbuhan, keotentikan, kekuasaan. Juga transformasi atas diri kita sendiri sekaligus berusaha meyatukan umat manusia dalam universalisme nilai- nilai dan gaya- gaya yang diciptakan oleh kapitalisme. Namun semuanya itu akan melecehkan dan bahkan menghancurkan nilai-nilai etnisitas, kelas, nasionalisme, agama ataupun ideologi.
Modernisme sesungguhnya ingin menyatukan umat manusia. Akan tetapi, yang dihasilkannya adalah sebuah kesatuan (keseragaman) dalam ketidaksatuan atau kesatuan yang paradoksal. Dalam kondisi seperti ini, maka hukum alamlah yang terjadi. Dalam konsep Kota- Desa, desalah yang akan menjadi korban.
Perayaan Kepalsuan
Kita sesungguhnya beramai- ramai turut serta dalam perayaan matinya orisinalitas. Bahkan diri kita sendiri kehilangan itu. Kita semua berlomba bersolek dengan topeng konsumerisme. Kita memaksakan diri untuk tampil gemerlap mengikuti ritme dan gaya kota besar.
Esensi kata “id” kehilangan makna. Nilai “kemenangan” menjadi kabur. Budaya Konsumerisme yang merupakan pusat denyut kehidupan dari Kapitalisme adalah merupakan sebuah budaya yang di dalamnya berbagai bentuk kepalsuan, ilusi, dusta, mimpi, kesemuan, artifisialitas.
Kedangkalan dan permukaan dikemas dalam bentuk tampilan yang membentuk satu kesadaran diri (self- consciousness) yang sesungguhnya juga penuh dengan kepalsuan. Desa merayakan frustrasinya dengan mengikuti tampilan kotanya. Bosan dengan segala ketertinggalan, membuat desa mencoba mengejar ketertinggalan dengan segala improvisasinya.
Media sosial yang begitu massif memfatwakan dalil- dalil kemajuan telah berubah menjadi agama baru yang lebih diikuti anjurannya dibandingkan anjungan agama yang sesungguhnya. Ini lalu semakin mempertegas hilangnya orisinalitas kita. Melalui media sosial yang dijakan patron dan ukuran kemajuan, kaum desa lalu menduplikasi kemajuan dikota yang jelas berbeda latar budaya, kebutuhan, kelebihan dan kekurangannya.
Matinya Orisinalitas
Akhirnya kepalsuan dan matinya orisinalitas juga masuk mengobok- obok ruang inti kehidupan desa. Budaya yang menjadi jantung orisinalitas pedesaan menjadi jungkir balik akibat kuatnya pengaruh fatwa Konsumerisme- kapitalistikyang merangsek membabi buta tanpa filter antara kebutuhan vis a vis keinginan atas kaum desa.
Kapitalisme hadir dengan kacamata kudanya tidak membedakan apakah komoditi, gaya, tren dan semua yang diproduksi dan difatwakan oleh kapitalisme lalu ditelan bulat- bulat. Kejutan-kejutan yang disuguhkan oleh Kapitalisme sungguh telah mengubah wajah desa yang lugu menjadi sebuah hidangan pantulan reflektif dari kota.
Rumah, gaya berpakaian, menu makanan, kue tradisional dan semua saling tabrak dan saling menduplikasi lalu kehilangan keasliannya. Begitulah tafsir kebudayaan kita saat ini. Dirasuki nafsu positivistik yang sungguh secara total ukurannya materi. Kita nyaris tak menyisakan orisinalitas dalam kehidupan kita.
Kita sungguh tak merayakan apa- apa selain merayakan kepalsuan kita semua. Silaturrahmi telah dilipat- lipat begitu tak berjarak didunia maya. Namun perjamuan yang sesungguhnya telah mati. Kita semua terjebak dalam banalitas kemajuan yang penuh dengan kepalsuan. Pada akhirnya kita menuuju ke upaya penyeragaman yang dikhotbahkan Modernisme- konsumerisme.
Oleh: Achmad Salim
(Ketua Qohuwa Buntet Pesantren.)















































































































Discussion about this post