Oleh: Endang Kurnia
DirekturMadani Private Learning Indramayu
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua 2020, seperti diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), minus 5,32%. Meskipun demikian, banyak yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih lumayan karena masih minus single digit pertumbuhan ekonominya.
Banyak negara lain yang pertumbuhan ekonominya pada kuartaal kedua 2020 minus double digit, misalnya Singapura (minus 12,6%) dan Uni Eropa (minus 14,4%). Banyak pengamat menyatakan bahwa Indonesia sudah masuk ke fase resesi ekonomi. Resesi ekonomi adalah kondisi suatu negara di mana pertumbuhan ekonominya menurun (minus), tetapi belum mencapai dasar.
Jika sudah sampai ke dasar, maka disebut depresi ekonomi. Ada lelucon yang mengatakan jika tetangga Anda yang dipecat dari pekerjaan, maka itu namanya resesi ekonomi, tetapi jika Anda sendiri yang dipecat maka itulah depresi ekonomi. Sebab utama minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah faktor eksternal dan internal yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.
Faktor eksternal antara lain turunnya harga komoditas-komoditas di pasar internasional, misalnya minyak mentah Indonesia yang harganya turun 57,9% dan juga harga komoditas lain seperti aluminium, tembaga, dan timah, serta kunjungan wisatawan asing yang turun sampai 87,9%. Sedangkan faktor internal adalah turunnya kegiatan ekonomi dari semua pelaku ekonomi mulai dari rumah tangga, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sampai korporasi atau perusahaan.













































































































Discussion about this post