KOTA CIREBON, (FC).- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menilai kondisi sektor jasa keuangan di wilayah Ciayumajakuning meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan tetap stabil sepanjang Triwulan I 2026.
Hal tersebut disampaikan Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, dalam kegiatan Bincang Asik Seputar Industri Jasa Keuangan (Bancakan) yang digelar di Kantor OJK Cirebon, Selasa (28/4).
Menurut Agus, stabilitas sektor keuangan daerah tercermin dari berbagai indikator, mulai dari pertumbuhan kredit, peningkatan aset perbankan, bertambahnya investor pasar modal, hingga semakin luasnya akses layanan keuangan bagi masyarakat.
“Di sisi lain, OJK juga terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan melalui program edukasi, pengembangan Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI), serta peningkatan perlindungan konsumen agar masyarakat lebih bijak memanfaatkan layanan keuangan formal,” ujar Agus.
Kinerja Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Ciayumajakuning, lanjut Agus, pada Triwulan I 2026 menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit hingga Maret 2026 tercatat mencapai Rp2,162 triliun atau tumbuh 5,31 persen secara tahunan (yoy), 7,55 persen secara tahun berjalan (ytd), dan 0,23 persen secara bulanan (mtm).
“Pertumbuhan tersebut diikuti dengan perbaikan kualitas kredit. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) mengalami penurunan, masing-masing sebesar 2,15 persen (yoy) dan 2,19 persen (ytd),” terangnya.
Dari sisi aset, BPR mencatatkan kenaikan menjadi Rp2,96 triliun, atau tumbuh 7,02 persen (yoy), 3,16 persen (ytd), dan 1,14 persen (mtm). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat menjadi Rp2,24 triliun.
Namun demikian, dari sisi rentabilitas, rasio Return on Assets (ROA) mengalami penurunan menjadi 2,10 persen secara tahunan dan tahun berjalan. Di sisi lain, rasio efisiensi (BOPO) meningkat menjadi 87,72 persen. Meski begitu, permodalan BPR masih kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,74 persen.
“Secara sektoral, penyaluran kredit BPR didominasi sektor bukan lapangan usaha lainnya sebesar 40,74 persen, disusul perdagangan besar dan eceran 34,94 persen, rumah tangga 8,15 persen, jasa kemasyarakatan 3,59 persen, serta pertanian 3,58 persen,” bebernya.
Pada sektor perbankan umum, kata Agus, kinerja kantor cabang bank di wilayah OJK Cirebon juga menunjukkan peningkatan. Penyaluran kredit mencapai Rp48,19 triliun atau tumbuh 37,01 persen (ytd). Aset tercatat Rp59,63 triliun dan DPK Rp41,31 triliun.
“Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di angka 3,61 persen. Secara komposisi, kredit konsumsi masih mendominasi dengan porsi 48,4 persen atau Rp23,33 triliun. Namun, dari sisi pertumbuhan, kredit investasi mencatatkan peningkatan tertinggi secara bulanan,” jelas Agus.
Sementara itu, kinerja Bank Umum Syariah juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Pembiayaan meningkat menjadi Rp7,78 triliun, dengan pertumbuhan 1,30 persen (mtm) dan 1,45 persen (ytd). Aset tercatat Rp8,37 triliun, sementara DPK berada di angka Rp5,54 triliun.
Rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Finance/NPF) masih terjaga di level 2,82 persen. Pembiayaan didominasi oleh sektor konsumsi sebesar Rp6,06 triliun, sekaligus menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi secara tahunan.
Sebagai upaya memperluas akses keuangan, tambah Agus, OJK Cirebon bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan pemerintah daerah terus menggalakkan edukasi, khususnya terkait keuangan syariah.
“Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap prinsip dan produk keuangan syariah, sekaligus mendorong pemanfaatannya secara lebih luas. Dengan demikian, diharapkan dapat memperkuat inklusi keuangan serta mendukung pengembangan ekonomi berbasis syariah di wilayah Ciayumajakuning,” pungkasnya. (Agus)









































































































Discussion about this post