KAB.CIREBON, (FC).- Kemegahan bangunan Terminal Ciledug di Kabupaten Cirebon belum berbanding lurus dengan denyut aktivitas di dalamnya.
Fasilitas transportasi publik yang dibangun dengan anggaran negara itu hingga kini masih tampak sepi, minim pergerakan penumpang, dan jauh dari fungsi idealnya sebagai simpul perhubungan regional.
Kondisi tersebut mendapat sorotan serius dari Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, H Daddy Rohanady. Ia menilai lemahnya pemanfaatan Terminal Ciledug menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pengelola, khususnya UPTD Pengelola Prasarana Perhubungan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (PPP LLAJ) Wilayah IV Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat.
“Sejak dibangun hingga sekarang, terminal ini belum berfungsi secara optimal. Padahal fasilitasnya sudah memadai. Ini tentu harus menjadi evaluasi serius bagi pengelola,” tegas Daddy, Minggu (1/2).
Menurutnya, persoalan utama terletak pada belum terbentuknya ekosistem perhubungan yang terintegrasi. Ia mendorong penyusunan sistem transportasi yang lebih terstruktur agar terminal benar-benar menjadi pusat pergerakan penumpang, bukan sekadar bangunan megah tanpa aktivitas.
Daddy mengusulkan agar kendaraan elf dan angkot difungsikan sebagai pengumpan (feeder) dari wilayah sekitar menuju Terminal Ciledug, sementara bus antarkota dapat langsung mengakses Tol Ciledug.
“Kendaraan umum seperti elf dan angkot harusnya mengantarkan penumpang ke terminal. Dari Sindanglaut, Karangsembung, Babakan, Pasaleman, Losari, dan wilayah sekitarnya. Sementara bus langsung masuk Tol Ciledug. Dengan begitu terminal bisa hidup,” jelasnya.
Tak hanya soal angkutan, Daddy juga menyoroti mandeknya pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sejatinya menjadi bagian dari konsep awal pembangunan Terminal Ciledug.
Ia mengingatkan, rencana penyediaan kios UMKM di area terminal hingga kini belum berjalan optimal, meski fasilitas tersebut telah dibangun menggunakan dana negara.
“Karena ini daerah pemilihan saya, tentu saya sangat berharap pemberdayaan UMKM benar-benar terwujud,” ujarnya.
Ia menegaskan, terminal seharusnya menjadi pusat aktivitas ekonomi rakyat kecil, bukan justru membuka ruang bagi usaha-usaha besar yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
“Mau pedagang kopi, mie instan, atau usaha kecil lainnya, yang penting UMKM hidup. Jangan sampai terminal ini justru diisi oleh usaha besar. Itu bukan tujuan awalnya,” tegas Daddy.
Lebih jauh, ia berharap Terminal Ciledug mampu membentuk ekosistem transportasi publik yang komprehensif, mulai dari penataan rute elf dan angkot yang masuk ke terminal, pemberdayaan UMKM, hingga penertiban yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
“Semestinya keberadaan terminal dioptimalkan agar berdaya guna dan berhasil guna untuk semua,” tandasnya.
Selain itu, kondisi jalan hotmix di depan area terminal juga menjadi sorotan. Daddy berjanji akan mengajukan permintaan kepada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Kabupaten Cirebon agar segera melakukan perbaikan, mengingat kerusakan jalan tersebut seharusnya dapat dicegah sejak dini.
“Secara ideal, terminalnya dibenahi, UMKM-nya hidup, dan akses jalannya juga harus rapi. Kalau semua ini berjalan, manfaatnya akan langsung dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
Dengan adanya perhatian dari DPRD Provinsi Jawa Barat, masyarakat berharap langkah konkret segera dilakukan agar Terminal Ciledug tidak terus menjadi simbol kemewahan tanpa fungsi, melainkan benar-benar hadir sebagai fasilitas publik yang memberi manfaat nyata bagi warga Cirebon Timur. (Nawawi)









































































































Discussion about this post