MAJALENGKA, (FC).- Majalengka tidak hanya dikenal dengan produsen gula putih yang sempat mengalami masa jaya karena berdirinya tiga pabrik gula, masing-masing Pabrik Gula Kadipaten, pabrik Gula Jatiwangi dan yang tersisa kini serta masih berproduksi dengan baik Pabrik Gula yang berlokasi di Jatitujuh.
Majalengka juga dikenal sebagai penghasil gula cakar yang mungkin tidak ada di kabupaten atau kota lain di Jawa Barat.
Gula cakar adalah pemanis minuman tradisional yang ada di Majalengka. Warnanya merah muda berbentuk kubus berukuran sekitar 5 X 5 cm.
Teksturnya kasar. Sekeliling permukaanya berpori dan gula ini mudah larut dalam udara dingin sekalipun. Begitu gula masuk ke dalam air atau terkena air sedikit saja langsung akan larut.
Menurut keterangan Jumadi, seorang produsen gula cakar, bahan baku gula cakar adalah gula putih yang dilarutkan dengan cara digodok kemudian dicampur soda makanan dan pewarna makanan.
Dulu sebelum soda populer, untuk pengembang gula cakar agar berpori dicampur dengan sabun batangan, namun tetap aman dikonsumsi karena satu adonan gula cakar campuran sabunnya hanya sebesar biji kacang kedelai saja.
Pewarna pun dulu sebelum ada pewarna makanan menggunakan pewarna pakaian yang dikenal dengan nama sianci.
Gula cakar konon pertama kali dibuat warga Tionghoa yang tinggal di Majalengka. Namun kini produsen gula cakar semuanya orang sunda dan kini menjadi industri rumahan yang produsennya tinggal beberapa orang saja.
Produksinya pun semakin terbatas. Pasar gula cakar ini hanya di pasar-pasar tradisional, tempatnya di sejumlah kios tertentu, yang dijajakan dalam wadah bernama dingkul yang bagian atasnya terbuka atau ditutup dengan kain putih berlubang agar gula tetap terlihat jelas.
Ini untuk memudahkan konsumen mengenali ketersediaan gula cakar.
Selain itu ada juga pedagang keliling yang setiap pagi berjualan dan memiliki pelanggan sendiri. Sani, warga Bojong, kelurahan Munjul misalnya, dia setiap pagi berjualan ke Kelurahan Simpeureum membawa sekitar 500 biji gula cakar.
Dia berkeliling rumah penduduk dan mengisi warung kecil penjual sayuran atau kelontongan.
Satu warung ada yang membeli 30 biji ada yang 50 biji, sisa mengisi warung di jual ke rumah-rumah yang masih sangat melekat dengan mengkonsumsi gula cakar.
“Ngadon gulana ti Munjul,“ ungkap Sani saat mengisi gula ke warung milik Susi, Kamis (19/6/2025).
Menurutnya konsumen gula cakar hanya mereka yang masih fanatik yang kebanyakan sudah berusia lanjut. Beberapa di antara mereka ada yang membeli lima biji setiap paginya ada juga yang enam biji dengan harga Rp500 per biji.
Gula cakar biasanya digunakan sebagai pemanis pada kopi, dan jaman dulu kopinya kopi tumbuk dan kasar, atau untuk pemanis air teh dan lebih khas teh tubruk.
Konsumen fanatik diantaranya adalah Uun, Aris, Ati dan Nengsih. Dari dulu hingga kini mereka tetap mengonsumsi gula cakar, kapasitansi minum kopi dengan pemanis gula putih terasa mulas dan terkadang batuk.
“Sok mules kuring mah mun ngopi pakai gula bodas teh,” ungkap Uun.
Sedangkan Aris mengaku menggunakan pemanis gula putih langsung batuk, tak heran jika dia setiap pagi minum kopi dengan menggunakan gula cakar dan warna airnya merah kehitaman.
Belakangan di Majalengka kota juga ada sejumlah rumah makan yang justru menyediakan minuman manis dari gula cakar alasan khas Majalengka serta begitu gula masuk ke gelas berair dikucek sekali langsung larut.
Gula cakar dan beberapa menu yang khas Majalengka menjadi andalan yang disuguhkan kepada pembeli.
Konsumen yang baru mengenal bisa terkesan dengan hidangan minuman tersebut, teh tubruk gula cakar yang wangi dan warnanya yang khas kemerahan. Yang belum pernah bisa mencobanya dan datang ke Majalengka.(Munadi)













































































































Discussion about this post