KAB. CIREBON, (FC).- Pagi itu, tawa anak-anak terdengar di kawasan Wisata Edukasi dan Observasi Kura-kura Belawa (Cikuya), Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang.
Dengan kertas gambar di tangan, mereka tekun mewarnai sketsa kura-kura Belawa, satwa endemik yang menjadi ikon desa.
Aktivitas sederhana itu kini menjadi pemandangan rutin. Cikuya perlahan bertransformasi dari kawasan konservasi menjadi ruang belajar terbuka bagi pelajar, khususnya siswa taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bela Asih Desa Belawa, Eman Suherman, mengatakan perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat.
Penataan lingkungan, kebersihan kawasan, serta perbaikan fasilitas menjadi kunci meningkatnya minat kunjungan wisata edukasi.
“Sekarang kondisinya jauh lebih tertata. Lingkungan bersih dan fasilitasnya layak untuk kegiatan pendidikan. Kami sudah mulai rutin menerima outing class dari sekolah-sekolah,” ujar Eman saat ditemui di lokasi wisata, Senin (19/1).*
Bagi Eman dan para pengelola, Cikuya bukan sekadar tempat melihat kura-kura. Di balik tempurung lunak kura-kura Belawa (Amyda cartilaginea), tersimpan nilai sejarah, cerita rakyat, dan kekayaan biologis yang ingin dikenalkan sejak dini kepada anak-anak.
“Kura-kura Belawa ini punya cerita dan sejarah sendiri. Bentuknya juga berbeda dari labi-labi lain. Itu yang kami sampaikan ke anak-anak, supaya mereka mengenal satwa lokal dan ikut menjaga,” tuturnya.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Berdasarkan catatan Pokdarwis, jumlah kunjungan pelajar terus meningkat.
Hingga kini, sekitar 2.000 hingga 3.000 siswa dari berbagai sekolah telah mengikuti kegiatan edukasi di Cikuya.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, pengelola menyiapkan beragam paket wisata edukatif, mulai dari pengenalan satwa hingga kegiatan kreatif seperti mewarnai.
Dalam waktu dekat, sekitar 70 siswa dijadwalkan kembali berkunjung.
“Sekolah cukup membawa alat tulis. Media gambar dan reward kami siapkan. Kami ingin kegiatan ini ringan, menyenangkan, dan tetap edukatif,” katanya.
Meski geliat wisata edukasi semakin terasa, Eman mengakui masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Salah satunya terkait dukungan kebijakan dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, agar wisata edukasi lokal lebih terintegrasi dengan program sekolah.
“Kami berharap ada dorongan resmi agar sekolah-sekolah di Cirebon menjadikan Cikuya sebagai tujuan wisata edukasi. Potensinya sudah ada, peminatnya juga jelas,” ucapnya.
Selain itu, persoalan akses jalan menuju Desa Belawa masih menjadi keluhan utama. Beberapa titik jalan dari arah Lemahabang menuju lokasi wisata dinilai belum memberikan rasa nyaman bagi pengunjung.
“Akses jalan sangat menentukan kenyamanan wisatawan. Orang datang ke sini ingin aman dan nyaman. Harapan kami, pemerintah bisa segera memperbaiki jalan menuju Cikuya, supaya potensi wisata ini benar-benar berkembang dan menjadi kebanggaan Cirebon,” pungkas Eman. (Nawawi)




















































































































Discussion about this post