KOTA CIREBON, (FC). – Disaat matahari tepat diatas kepala, mobil pengangkut sampah tiba di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopi Luhur Kecamatan Harjamukti Kelurahan Argasunya, langsung disambut wanita perkasa yang siap bersaing mengambil sampah.
Tidak seperti ibu – ibu lain yang sibuk di dapur, dengan mengunakan penutup kepala serta wajah, ibu-ibu ini saling berebut sampah yang baru saja di turunkan dari mobil truk pengangkut.
Mereka saling berebut sampah plastik yang dianggap mempunyai nilai jual, tanpa memikirkan keselamatan tertimbun sampah.
Dengan sigapnya, mereka memilah sampah plastik dari berbagai jenis dan langsung di masukan ke keranjang yang dibawanya.
Seperti yang dilakukan Nurimah (45), sampah plastik baginya sama seperti emas, begitu berharganya sehingga layak untuk di perebutkan, teriknya matahari tidak menjadi halangan untuk mengumpulkan sampah palstik.
Dirinya mengangku dalam satu minggu mampu mengumpulkan 100 kilogram sampah plastik, setelah satu minggu baru sampah yang terkumpul di jual kepada pengepul.

“Kalau ada truk sampah masuk kita sudah nunggu, begitu diturunkan langsung cepat mengambil sampah. Kalau gak cepat kalah sama yang lain,” kata Nurimah Rabu (30/9/2020)
Setelah sampah terkumpul, pada sore harinya, Nurimah memilih sampah plastik dari warnanya, plastik yang berwana di jual dengan harga Rp400 perkilogramnya sedangkan sampah plastik bening di hargai Rp1000 perkilogram.
“Biasanya mobil sampah datang sekitar jam 11.00. WIB, kita sudah mulai kerja ngumpulin sampah dan sore baru kita pilah – pilah, yang warna bening harganya lebih mahal,” ujarnya.
Dirinya tidak merasa malu dengan menjadi pemulung sampah di TPA Kopi Luruh milik Pemerintah Kota Cirebon, karena dengan menjadi pemulung dirinya mampu memenuhi kebutuhan sehari – haru keluarganya.
Begitupun dengan ketiga anak – anak yang sudah cukup besar ikut membantu berburu sampah plastik di tumpukan sampah.
“Kalau malu kita gak makan, jadi haru mau, kalau bau sudah biasa, saya dibantu sama anak-anak biar hasilnya jadi banyak, kalau saya sendirian sedikit kumpulnya,” papar Nurimah saat ditemui di TPA Kopi Luhur
Tidak saja Nurimah, pemulung sampah di TPA Kopi Luhur di dominasi wanita yang setiap harinya mencari rejeki dari sampah yang di angkut dari Kota Cirebon. (Zaga/Job/FC)













































































































Discussion about this post