KOTA CIREBON, (FC).- Jutaan unit Vaksin Sinovac asal Tiongkok saat ini sudah berada ditempat penyimpanan Bio Farma di Bandung. Pemerintah pusat masih menunggu izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang akan menerbitkan Izin penggunaan darurat vaksin tersebut.
Kadinkes Kota Cirebon, Edy Sugiarto memperkirakan, untuk Kota Cirebon akan menerima distribusi vaksin tersebut pada minggu kedua Bulan Januari ini. Dengan total jatah vaksin tahap pertama sejumlah 5.000 unit vaksin.
“Iya kami perkirakan pertengahan Januari ini vaksin akan datang ke Kota Cirebon, dengan jumlah 5.000 unit,” jelas Edi dihubungi FC, Minggu (3/1).
Dijelaskannya, vaksin diberikan terlebih dahulu kepada tenaga kesehatan (nakes). Untuk sementara yang sudah masuk data, jumlah nakes di Kota Cirebon yang mendaftar sekitar 3.600 orang.
Kemudian berlanjut ke aparat TNI-Polri dan ASN yang secara langsung bersentuhan dengan pelayanan publik.
Setelah itu, vaksin secara bertahap akan diberikan kepada warga Kota Cirebon. Bertahap karena distribusi vaksin itu sendiri diberikan juga secara bertahap oleh pemerintah pusat.
Setelah pendistribusian vaksin pada Januari, akan dilanjutkan sampai Desember 2021 mendatang.
Edi menuturkan, masyarakat perlu lebih memperhatikan detil ketentuan sebelum menjalani proses vaksinasi, ada rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan rekomendasi daftar pemberian vaksinasi Covid-19 produksi Sinovac terhadap orang dengan komorbid.
“Vaksin Covid-19 diberikan dengan kriteria pada orang dewasa sehat usia 18-59 tahun, menyetujui mengikuti aturan dan jadwal imunisasi,” ungkapnya.
Penderita penyakit komorbid yang tak bisa atau belum layak divaksin Covid-19 yakni, penyakit autoimun sistemik.
Sindrom Hiper IgE, pasien dengan infeksi akut, pasien dengan kondisi penyakit infeksi akut yang ditandai dengan demam menjadi kontraindikasi vaksinasi.
Kemudian penyakit ginjal kronis hipertensi, gagal jantung, penyakit jantung koroner, reumatik autoimun, penyakit-penyakit gastrointestinal. Hipertiroid/ hipotiroid, kanker, pasien hematologi onkologi.
Meski demikian, bukan berarti pasien komorbid tidak bisa mendapat vaksinasi. Masyarakat golongan ini tetap bisa mendapatkannya asal komorbid di penyakit seperti ini.
Berikut penyakit penyerta yang layak vaksinasi adalah reaksi anafilaksis yang bukan akibat vaksinasi Covid-19.
Selanjutnya, riwayat alergi obat alergi makanan, asma bronkial, rhnitis alergi, urtikaria, dermatitis atopi, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), TBC, kanker paru, Interstitial Lung Disease (ILD) dan lainnya.
“Kita sudah mendapatkan anggaran guna pelaksanaan vaksinasi ini senilai Rp.2 miliar. Yang digunakan untuk peralatan, pelatihan petugas dan operasional lainnya,” ucap Edy.
Menjawab pertanyaan terkait prediksi meningkatnya kasus positif Covid-19 pasca liburan nataru, Edy tidak membantahnya.
Bahkan, kata Edy, bisa sampai Bulan April mendatang tren nya akan naik. Baru lepas April diperkirakannya akan mulai melandai.
“Untuk itu kami tidak bosan-bosannya mengingatkan agar semua masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Dengan 3M+, yakni memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir, menjaga jarak. Dan tambahannya adalah mengurangi bepergian serta menghindari kerumunan,” tandasnya. (gus)
















































































































Discussion about this post