KAB.CIREBON, (FC).- Pemerintah Kabupaten Cirebon terus mengintensifkan upaya percepatan penurunan angka stunting melalui penanganan yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari aspek pencegahan hingga intervensi langsung terhadap anak yang mengalami stunting.
Melalui Dinas Kesehatan dan dukungan sejumlah perangkat daerah terkait, program penanganan stunting dijalankan secara terpadu dengan target mewujudkan generasi yang lebih sehat serta menekan prevalensi stunting secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Hj Eni Suhaeni, mengatakan strategi yang diterapkan mengedepankan pendekatan dari hulu hingga hilir. Pada sisi hulu, pemerintah fokus pada upaya promotif dan preventif, sedangkan pada sisi hilir dilakukan intervensi terhadap anak-anak yang telah teridentifikasi mengalami stunting.
“Penanganan stunting tidak hanya dilakukan saat anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga melalui pencegahan sejak dini melalui edukasi, promosi kesehatan, dan peningkatan pemahaman masyarakat,” ujar Eni, Jumat (19/6).
Menurutnya, program promotif dan preventif dilaksanakan melalui 60 puskesmas yang tersebar di Kabupaten Cirebon dengan dukungan anggaran yang telah disiapkan pemerintah daerah.
Selain puskesmas, upaya tersebut melibatkan Public Safety Center (PSC), dua rumah sakit daerah, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), serta berbagai instansi yang terlibat dalam program percepatan penurunan stunting.
Eni menegaskan seluruh program berjalan sesuai rencana kerja yang telah disusun sebelumnya dan dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip akuntabilitas serta integritas.
“Kami melaksanakan program sesuai arahan pimpinan daerah agar setiap kegiatan dilakukan secara bertanggung jawab dan berintegritas,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan program secara rutin dievaluasi melalui monitoring dan penilaian, termasuk pengawasan dari Inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, program yang dijalankan Dinas Kesehatan maupun puskesmas dinilai telah berjalan sesuai ketentuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, berbagai upaya yang dilakukan mulai menunjukkan hasil positif. Data yang dimiliki Dinas Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Cirebon mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2023 angka stunting tercatat sebesar 22,2 persen. Angka tersebut turun menjadi 18 persen pada 2024 dan bertahan di angka yang sama pada 2025.
Sementara untuk tahun 2026, data resmi belum tersedia karena survei pengukuran prevalensi stunting baru akan dilaksanakan pada November mendatang.
Meski demikian, hasil pemantauan pertumbuhan balita yang dilakukan sejak Februari hingga Agustus menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah kasus dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dari hasil penimbangan balita yang kami lakukan, angkanya menunjukkan tren menurun dibandingkan tahun 2025. Mudah-mudahan hasil survei nanti menunjukkan penurunan yang lebih baik,” ujar Eni.
Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi juga dipengaruhi pola asuh keluarga dan pemahaman orang tua mengenai pemberian makanan yang tepat.
Karena itu, Dinas Kesehatan terus memperkuat edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan, serta pendampingan kepada keluarga yang memiliki balita.
“Kami terus memberikan pemahaman tentang pola pemberian makan yang sesuai standar, frekuensi makan yang tepat, hingga jenis menu yang dibutuhkan anak untuk mendukung pertumbuhan optimal,” katanya.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan edukasi masyarakat, Pemerintah Kabupaten Cirebon optimistis target penurunan stunting dapat terus dicapai sehingga kualitas kesehatan generasi mendatang semakin baik. (Ghofar)








































































































Discussion about this post