KAB. CIREBON, (FC).- Para perajin gerabah di Desa Sitiwinangun Kabupaten Cirebon terus mengembangkan inovasi guna mengadapi persaingan pasar industri kreatif yang semakin ketat. Berbagai inovasi dilakukan mulai dari proses pembentukan menggunakan cetak gips hingga sentuhan kombinasi lapisan glasur.
Hasilnya, produk gerabah Sitiwinangun naik kelas dan mampu meningkatkan nilai jual.
“Harga jualnya lebih terasa sekarang. Kalau dulu cuma Rp10 ribu, sekarang bisa laku Rp40 ribu untuk cangkir kopi,” kata Nurjaji, salah satu perajin Gerabah Sitiwinangun kepada FC, Kamis (17/9).
Nurjaji mengatakan, pengembangan inovasi terus dilakukan dari tahun 2019 sampai dengan sekarang.
Selain mendapatkan pelatihan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdaging) Kabupaten Cirebon, perajin gerabah Sitiwinangun juga mendapatkan support pendampingan dari penggiat industri kreatif di Cirebon, Gunawan yang merupakan desainer jebolan ITB.
Nurjaji adalah salah satu pemuda di Desa Sitiwinangun yang sudah menggeluti usaha gerabah sejak tahun 2010.
“Sejak tahun 2010 saya mulai terus menekuni sampai saya itu belajar ke pengrajin-pengrajin yang senior-senior saya. Saya coba belajar dari teknik tradisional maupun teknik modern,” katanya
Dan setahun ini, dirinya banyak belajar dari Gunawan, desainer ITB yang kebetulan adalah teman Nujaji waktu SMP dulu. Bersama-sama dengan pengrajin gerabah di Desa Sitiwinangun, Nurjaji melakukan inovasi mulai dari proses penyaringan tanah sampai dengan teknik cetak cor.

Butiran tanah liat yang tidak tersaring, disaring kembali sampai disara betul-betul lembut hingga 80 mesh. Proses ini dilakukan untuk menghasilkan permukaan barang yang halus.
“Dengan mas Gun saya belajar melakukan penelitian lagi untuk tanah yang lebih halus. Selain saya mempelajari tanah halus, saya memasukan unsur glasurnya. Saya berpikir harus ada sentuhan modernnya,” jelasnya.
Inovasi proses pembentukan juga dilakukan. Selama ini, proses pembentukan barang gerabah seperti gelas, piring, mangkuk menggunakan teknik pembentukan dengan roda pemutar (penggilidan).
Tetapi kini perajin gerabah Sitiwinangun mulai menerapkan teknik pembentukan gerabah dengan menggunakan cetakan gipsum.
“Dengan cetak gips ini produksinya lebih cepat. Satu cetakan dalam sehari bisa bikin lima. Jadi kalau ada cetakan bisa 100 lebih dalam sehari,” ungkap Nurjaji.
Dalam upaya mendukung pengembangan industri kreatif gerabah Desa Sitiwinangun yang merupakan desa wisata di Kabupaten Cirebon ini, pihak Disdaging Kabupaten Cirebon juga menggandeng perusahaan cat Propan memberikan pelatihan finishing kepada para perajin, Kamis (17/9).

Didin Nuhidin, Head Promotor Propan untuk wilayah III Cirebon mengatakan, pihaknya memberikan pelatihan finishing untuk menghasilkan produk gerabah yang lebih baik lagi.
“Kita kenalkan proses finishing dengan water based. Selain ramah lingkungan, gampang pengerjaannya, dan maintenance alatnya pun lebih simpel. Hasilnya juga lebih bagus,” jelas Hadi kepada FC disela kegiatan pelatihan.
Sementara itu, Gunawan, desainer ITB yang juga pemerhati industri kreatif di Cirebon mengatakan, dirinya sangat mensuport pengembangan gerabah Sitiwinangun melalui sentuhan-sentuhan inovasi tersebut.

“Dengan teknik cetak gips ini menghasilkan bentuk yang konsisten dan standar industri,” katanya.
Sentuhan glasur ini, menurutnya, tidak dilakukan seluruhnya, melainkan hanya pada bagian dalam, seperti gelas, mangkuk, maupun cangkir. Bagian luarnya tetap menonjolkan unsur gerabahnya. (Andriyana)














































































































Discussion about this post