KOTA CIREBON, (FC).- Dampak dari pencemaran TPA Kopiluhur semakin dirasakan warga disekitarnya. Tidak hanya bau sampah yang menyengat saja, akan tetapi air tanah dan sumur warga juga sudah tercemar resapan dari TPA tersebut.
Terkait permasalahan ini, Pengasuh Pondok Pesantren Pengasuh Benda Kerep KH Miftah Faqih angkat bicara.
KH Miftah mengaku prihatin terhadap persoalan yang dialami warga Argasunya terkait dugaan tercemarnya sumur warga akibat limbah dari TPA Kopiluhur.
Dikatakannya, persoalan ini sudah lama dialami warga sekitar TPA Kopiluhur. Seperti di Kampung Kalilunyu, dan Kampung Sumurwuni.
“Kami meminta Pemerintah Kota Cirebon dan jajarannya untuk segera memperbaiki TPA Kopiluhur. Hal ini untuk segera ditangani Pemkot Cirebon agar tidak sampai membikin polusi ke air-air sumur warga. Jadi saya mohon untuk cepat ditangani karena akan berefek kepada kesehatan warga,” tegasnya, Jumat (8/8).
Ditegaskannya, Pemkot Cirebon dan DPRD Kota Cirebon untuk serius memperhatikan masyarakat di Argasunya.
“Jadi aja padu mengaku mengaku wakil rakyat bae, jadi kudu bener-bener perhatikan rakyat ning Argasunya”
Yang artinya “Jangan cuma pada saat akan pemilihan, rakyat drudag grudug dibawa ke sana ke sini kaya kambing gitu. Nah, ketika sudah terpilih enggak ada perhatiannya”
Ditambahkan KH Miftah, pemerintah jangan anti kritik yang disampaikan masyarakat.
“Masyarakat boleh mengkritik tapi jangan nyinyir kepada pemerintah. Dan pemerintah juga mau diingatkan dan harus mau mengingatkan. Ada bahasa dalam pesantren itu kalau ada yang tidak mau diingatkan dan tidak mau mengingatkan, orang itu kalau bahas Jawa Cirebonnya itu Rembetuk,” tuturnya.
Sementara itu, Kasubag TU UPT TPA Kopi Luhur Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon, Jawahir tidak menampik adanya keluhan warga soal kondisi air.
“Kami telah melakukan sejumlah upaya untuk membantu warga terdampak. Memang kemarin ada sejumlah warga yang mengeluhkan soal licit. Kita sudah berusaha memberikan air bersih berupa sumur bor di dua titik di wilayah Palinggihan RT 1 dan di Sumurwuni RW 1,” ungkapnya.
Menurutnya, bau dan kekeruhan air sumur warga salah satunya dipicu kondisi kolam penampungan licit di TPA yang tidak mampu menampung air pada musim hujan.
“Akibatnya, air mengalir ke sungai yang jalurnya berhubungan dengan pemukiman. Kalau air dari licit memang bau, tapi kami sudah berusaha mengolahnya sesuai aturan yang berlaku,” ucapnya.
Jawahir menjelaskan, awalnya TPA Kopi Luhur memiliki tujuh kolam penampungan licit. Namun, seiring waktu, sebagian kolam tertutup sampah sehingga fungsinya berkurang.
“Satu kolam itu lebarnya 12 meter dengan kedalaman sekitar 3-4 meter. Karena tidak bisa menampung semua, saat musim hujan air meluber. Mungkin juga ada keretakan sehingga merembes ke tanah dan sampai ke pemukiman warga,” jelasnya.
Saat ini, pihaknya tengah melakukan renovasi dan berencana menambah kolam penampungan baru.
“Selain itu, sumur bor tambahan juga telah dibuat di empat titik, termasuk bantuan dari Bandung dan Polres Cirebon Kota. Kalau dari kami, yang terdampak limbah TPA hanya di Palinggihan RW 1. Kalau RT 04/04 yang bersuara, jaraknya berdekatan, hanya terhalang jalan saja,” tandasnya. (Agus)











































































































Discussion about this post