“Bahkan ada pengunjung yang nekat minta kasbon. Ini tentu tidak menggembirakan, tapi masih untung bisa bayar karyawan,” kata dia.
Okeng menjelaskan, dari 12 room yang ada, kini hanya tersisa 9 room saja. Sisa 3 room lainnya sengaja tidak ia aktifkan karena tidak mampu lagi untuk biaya perawatannya. Akibat kondisi tersebut, pada tahun 2019 sempat terlintas keinginan untuk menjual tempat tersebut.
“Setiap hari paling banter 5 room dengan jumlah pengunjung 50 kebawah. Untuk hall juga paling 2 table,” kata dia.
Meski dalam kondisi sulit seperti ini, ia mengaku tetap memperhatikan protokol kesehatan termasuk kepada pengunjung yang datang.
Kapatuhannya dalam menerapkan protokol kesehatan itu tak lain karena Pemda melalui Disbudparpora terus melakukan monitoring dan pembinaan secara berkala.
“Satu minggu itu tiga kali sampai lima kali memerintahkan kami untuk menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya.












































































































Discussion about this post