KAB. CIREBON,(FC).- Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding mengajak para purna pekerja migran indonesia bergelut ke dunia wirausaha sebagai langkah memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan daerah pasca bekerja di luar negeri.
Hal tersebut disampaikan Menteri P2MI usai mengunjungi lokasi usaha konveksi Mawar Fashion milik Didi Kusnadi yang merupakan seorang purna migran asal Desa Kebonturi, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon .
Didi Kusnadi sebelumnya bekerja menjadi TKI di Korea Selatan.
“Saya melihat langsung bagaimana purna migran mampu membangun usaha yang bukan hanya menguntungkan secara pribadi, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar, melalui usaha yang di gelutinya” kata Abdul Kadir Karding kepada awak media. Sabtu (17/5).
Karding menjelaskan usaha yang digeluti oleh purna migran asal Cirebon itu kini memiliki omzet bernilai ratusan juta rupiah per bulan, dan dikelola dengan sistem manajemen modern dengan manfaatkan penjualan secara digital (online).
Berwirausaha merupakan salah satu bentuk pemberdayaan paling efektif bagi purna migran setelah kembali ke Tanah Air.
“Pemberdayaan untuk purna migran bisa dilakukan melalui pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, hingga pembukaan akses permodalan, Kita juga ingin mereka terlibat dalam pelatihan vokasi, baik keterampilan kerja maupun bahasa setelah kembali ke indonesia,” ujarnya.
Berbekal pengalaman selama bekerja di luar negeri, termasuk penguasaan bahasa asing seperti Korea, dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelatihan bagi calon pekerja migran berikutnya.
Oleh karena itu, ia mendorong pembentukan koperasi atau badan usaha bersama sebagai wadah kolaborasi dan penguatan ekonomi purna migran.
Lebih lanjut, Karding menekankan pentingnya adaptasi terhadap teknologi dalam pengembangan usaha yang dilakoni oleh para purna migran.
Ia menyebut saat ini berdagang tidak bisa lepas dari teknologi. Jika tidak mengikuti perkembangan zaman, usaha seperti konveksi bisa tertinggal.
“Kementerian P2MI akan memberikan dukungan konkret, termasuk fasilitasi legalitas usaha,Kami siap membantu agar usaha mereka tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar luar negeri,”. ujarnya
Sementara purna migran sekaligus pemilik Mawar Fashion, Didi Kusnadi mengatakan Mawar Fashion adalah sebuah usaha konveksi yang kini fokus memproduksi busana muslim anak dan remaja.
“Saya ini sebenarnya sudah melewati tiga fase. Dari calon pekerja migran (CPMI), lalu menjadi PMI di Korea Selatan dan sekarang jadi PPMI (Purna Pekerja Migran Indonesia),” ujar Didi
Perjalanan panjang itu dimulai pada 2008, ketika ia memutuskan bekerja ke Korea Selatan.
Saat itu, kata Didi, bekerja ke luar negeri adalah satu-satunya jalan untuk meningkatkan taraf hidup bagi sebagian warga di wilayah barat Kabupaten Cirebon.
“Gajinya di sana lumayan besar, jadi ketika pulang bisa untuk modal usaha berbekal lokasi rumah yang dekat dengan Pasar Tegalgubug, sebuah pasar sandang legendaris yang dikenal hingga tingkat ASEAN, saya mulai melihat peluang dan terciptalah usaha konveksi Mawar Fashion” pungkasnya. (Johan)













































































































Discussion about this post