KUNINGAN, (FC).- Ratusan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Kuningan menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kuningan, Jumat (24/10).
Meski diguyur hujan deras, massa tetap bertahan di halaman kantor kejaksaan, menyerukan agar aparat penegak hukum segera menuntaskan kasus dugaan penyelewengan dana proyek Kuningan Caang senilai Rp117 miliar.
Sebelumnya, pada Kamis malam (23/10), mahasiswa bersama sejumlah elemen masyarakat juga menggelar aksi simbolik seribu lilin bertema “Kuningan Caangkeun” di area Pendopo Kabupaten Kuningan.
Ratusan lilin dinyalakan sebagai bentuk doa dan seruan moral agar kasus proyek Kuningan Caang segera mendapat kejelasan hukum.
Aksi damai tersebut berlangsung khidmat dan menjadi tanda awal gerakan moral menuntut transparansi dan keberpihakan hukum pada rakyat.
Aksi keesokan harinya berlangsung lebih tegas dan emosional. Tanpa mengenakan jas hujan, para mahasiswa berdiri tegak di tengah hujan, membawa poster dan spanduk besar bertuliskan #KuninganCaangkeun.
Seruan mereka menggema di antara rintik hujan, menuntut agar hukum berpihak pada rakyat, bukan pada kekuasaan.
“Sudah terlalu lama kasus ini mandek. Kami datang ke sini untuk menagih janji transparansi hukum,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.
Namun situasi sempat memanas ketika mahasiswa memaksa masuk untuk menemui Kepala Kejaksaan Negeri Kuningan, Ikhwanul Ridwan Saragih.
Keinginan itu tak terwujud karena Kajari dikabarkan tidak berada di tempat.
Ketegangan pun tak terelakkan, terjadi aksi saling dorong antara aparat keamanan dan massa aksi, hingga beberapa mahasiswa mengalami luka di tangan dan pelipis.
Koordinator aksi, Rizal, menilai ketidakhadiran Kajari merupakan bentuk pengabaian terhadap aspirasi publik.
“Kami datang bukan untuk membuat kerusuhan, tapi menuntut keadilan. Tapi Kajari justru memilih bersembunyi. Ini pelecehan terhadap suara rakyat. Selasa depan kami akan datang lagi, lebih banyak dan lebih lantang,” ujarnya tegas di tengah hujan.
Sementara itu, salah satu orator GMNI juga menuding pihak kejaksaan menghindar dari tanggung jawab.
“Jangan pura-pura tidak tahu kami datang! Kajari Kuningan dengan sengaja menghindar dari rakyatnya sendiri!” serunya, disambut sorakan ratusan mahasiswa yang basah kuyup namun tetap bersemangat.
Setelah hampir dua jam bertahan di bawah hujan tanpa kejelasan, massa akhirnya membubarkan diri dengan perasaan kecewa.
“Kami pulang bukan karena menyerah, tapi karena kecewa. Kejari Kuningan hari ini gagal menunjukkan keberpihakannya pada keadilan,” ujar salah satu peserta aksi sebelum meninggalkan lokasi.
Aksi ini menjadi simbol kekecewaan publik terhadap lambannya penanganan kasus Kuningan Caang, sekaligus memperlihatkan keteguhan mahasiswa dan masyarakat dalam memperjuangkan transparansi serta keadilan di Kabupaten Kuningan. (Angga/Job/FC)














































































































Discussion about this post