“Upah pembuat tambang itu sekilo hanya Rp 5.000, kami sehari hanya mampu membuat 10 kg tambang. Uang sebesar itu dibagi tiga orang karena satu kelompok pembuat tambang berjumlah tiga orang,” kata Rumsih.
Pekerjaan tersebut menurut ibu-ibu dilakukan mulai pukul 07.00 WIB setelah selesai masak hingga bedug duhur. Sementara saat musim ke sawah mereka pun berhenti sementara dan baru pulang dari sawah kembali bekerja.
“Ini karena tidak ada pekerjaan, jadi walaupun upah murah tetap kami lakukan yang terpenting bisa mendapat penghasilan walaupun kecil,” ungkap Atni.
Di wilayahnya ada sekitar 400 orang ibu-ibu yang setiap harinya mengerjakan pembuatan tambang. Dua hari sekali hasilnya dikirim kembali ke bandar dan bandar mengirimkannya ke pada pemesan di Tasikmalaya.















































































































Discussion about this post